PERWUJUDAN TOLERANSI BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN KOTA JAKARTA

  • admin
  • 15/12/2018
  • Comments Off on PERWUJUDAN TOLERANSI BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN KOTA JAKARTA

Jakarta– Toleransi menjadi dasar dari kehidupan masyarakat pada umumnya. Tidak ada satupun negara yang tidak mendambakan adanya kestabilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan negara. Jakarta sebagai barometer pembangunan kota di Indonesia sengaja meletakkan bangunan Gereja Kathedral dan Masjid Istiqlal dalam posisi yang bersandingan. Seolah tidak takut dengan gesekan yang terjadi karena perbedaan keyakinan, Presiden Soekarno, sebagai pencetus pembangunan Masjid Istiqlal, sengaja membangun masjid tepat diseberang gereja sebagai upaya simbolik masyarakat mampu hidup berdampingan secara bebas dan merdeka dalam menjalankan aktiftas apapun termasuk ibadah.

https://photos.google.com/album/AF1QipOBQNjLoai-Rhgyp5ULkdwb4fukms71LwXt8fai/photo/AF1QipOjhyNK5l8lTFbD9M7lHACFeNP1m8-uv8vwaIwI

            Masjid Istiqlal terletak di Jalan Katedral, Jakarta disebut sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, penulis berkesempatan berkunjung ke Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal, Minggu (10/12). Pemandangan yang sangat baik dirasakan ketika penulis akan memarkirkan kendaraan di Gereja Katedral. Pada saat itu, parkiran gereja sangat padat karena hari minggu merupakan puncak acara yang terdapat di gereja. Di tengah antrian parker, tanpa segan, pengurus gereja mengarahkan penulis untuk memarkirkan kendaraan di Masjid Istiqlal. Pemandangan yang sangat luar biasa adalah ketika penulis akan memarkirkan kendaraan sekitar pukul 11.15, waktu yang berdekatan dengan kegiatan sholat jam 12.00, tidak ada pertanyaan lebih dari pengurus masjid, mereka tetap memandu kendaraan penuli ssecara sama seperti halnya orang lain yang memang bertujuan untuk datang kemasjid.

            Seperti halnya ketika penulis berjalan, pun tidak ada pandangan yang seolah mengintimidasi dari pengunjung masjid, semua berlangsung secara natural dan setara dengan semua pengunjung lain. Hal yang cukup unik adalah, terdapat juga beberapa turis yang memiliki ciri fisik kaukasia yang secara sengaja memotret segala sudut masjid. Sehingga dapat dikatakan, pengurus Masjid Istiqlal Jakarta, sangat menghargai seluruh pengunjung masjid tanpa adanya diskriminasi terkait perbedaan keyakinan.

Penjaga pintu parkir bernama Barokah menjelaskan bahwa, masalah iman itu adalah urusan pribadi, dalam agama Islam terdapat kata-kata yang berisikan “Bagimu agamamu,bagiku agamaku”. Hal itu menjadi dasar mereka untuk terus melayani setiap pengunjung secara setara tanpa memandang identitas lain yang dirasa dapat mengurangi rasa persatuan kita sebagai masyarakat. Barokah menjelaskan bahwa, Masjid Istiqlal sangat terbuka dan sering membantu umat Nasrani pada saat hari besar dengan meminjamkan tempat parkirnya, sehingga Umat Nasrani dapat beribadah di Gereja Katedral dengan nyaman.

Kalo disini (Masjid Istiqlal – red) sering buat ngebantuin orang gereja kalo natal atau paskah, halaman gereja kan kadang dibangun tenda,mau parker di jalan kan kaga bisa, yasini sih buka-buka aja bang. Namanya orang mau ibadah kan kudu dibantu.” Jelas Barokah.

Gereja Katedral pun demikian, Gereja mengemban misi untuk selalu berupaya melayani sesama tanpa memandang identitas apapun. Senadadengan Barokah, penjaga gereja Ikhsan juga menceritakan bahwa gereja Katedralsering digunakan sebagai tambahan kantong parker bagi para Jemaah yang sedangberibadah pada hari besar agama Islam.

https://photos.google.com/album/AF1QipOBQNjLoai-Rhgyp5ULkdwb4fukms71LwXt8fai/photo/AF1QipN33eT6kBM3988J2r7saqjw4ISzAafppAUjJUq0

Gereja Katedral dibangun pada tahun 1901 dengan menggunakan desain Eropa Gothik yang menjadi standar gereja pada masa itu, kini gereja yang dibangun pada masa Hindia Belanda tersebut menjadi lambing dan ikon gereja di Jakarta pada masa kini, tak ayal beberapa pengunjung gereja yang mengikuti misa mingguan juga berasal dari pejabat dalam negri maupun luar negeri.. Hal ini terlihat ketika penulis berkesempatan mengikuti kegiatan misa mingguan pada tanggal 10 desember lalu. Terdapat beberapa kendaraan dinas pemerintahan negara serta kendaraandiplomat milik negara asing. Tak ayal, jaminan keselamatan serta keamanan Gereja Katedral menjadi salah satu hal yang diperhitungkan, dan lokasi gereja yang berada didepan masjid bukanlah menjadi penghalang dari tercapainya jaminan keselamataan dan keamanan umat nasrani yang sedang beribadah.

https://photos.google.com/album/AF1QipOBQNjLoai-Rhgyp5ULkdwb4fukms71LwXt8fai/photo/AF1QipNgOMejBfWnaLrS9zUjfNjgicIPmqcCAjYftEQQ

Hal ini turut dibenarkan oleh Romo Gereja Katedral yang menjelaskan bahwa, keberadaan masjid bukanlah menjadi penghalang, melainkan menjadi penunjuk jelas bahwa Indonesia itu negara yang toleran dan negara yang sangat aman. Sehingga tidak ada sedikitpun ketakutan akan adanya gesekan, melainkan keberadaan masjiddan gereja bisa membentuk tali silaturahmi yang lebih kuat, dan menjadi ikon persatuan Indonesia. (NABR – 13 09 05090)