Sudut Pandang seorang Buddhis Terhadap Konflik Agama

  • admin
  • 11/12/2018
  • Comments Off on Sudut Pandang seorang Buddhis Terhadap Konflik Agama

                                                                             

Pawai di Dusun Tekelan.

 Ada sebuah tradisi menarik yangterjadi di Dusun Tekelan, Salatiga. Sebuah tradisi yang dilakukan pada tiaphari besar keagamaan setiap tahunnya. Dimulai pada tahun 2016, secara diam-diamwarga non muslim sepakat untuk memulai tradisi ini dengan membuat pagar manusiadi depan Masjid pada sholat Ied. Setelah sholat Ied selesai, mereka memulaitradisi bersalaman dan saling memberi selamat bagi warga muslim yang sedangmerayakan hari kemenangan. Hal ini terulang juga pada hari keagamaan Kristendan Buddha, yang ada di desa tersebut.

            Satu hal lagi yang menarik, beberapa keluarga membebaskan anak-anak untuk menentukan agama yang akan mereka anut.Sebuah gagasan yang menurut membuka mata kami, bagaimana keluarga-keluargadisana menanamkan unsur-unsur hal baik, dan memberi tafsir terhadap apa ituagama, dan lebih penting lagi bagaimana membangun ekosistem kecil yang baikdalam keluarga.

            Sebenarnya ada banyak sekali hal menarik dari desa terakhir basecamp pendakian Merbabu via Tekelan, yang ingin dibahas disini adalah bagaimana masyarakat beragama Buddha yang menjadi mayoritas disana memaknai keberagaman dan bagaimana cara mereka hidup berharmoni dengan warga beragama yang lain.

            Disana ada sebuah Wihara Buddha yang diberi nama Bumika pada tahun 1980-an, Mbah Karto Taruno mengajak umat Buddhamembangun vihara. Rencana pembangunan vihara ini pun disambut baik oleh umat,dengan iuran rabuk kandang atau, kerja bakti menanam di bengkok lurah dan hibahtanah dari Mbah Karto Taruno. Seluruh masyarakat dusun melakukan kerja baktiuntuk mendirikan vihara.

            Di Tekelan kami bertemu dengan Citro sebagai ketua pengurus Wihara Bumika yang banyak bercerita soal keberagaman dari sudut pandangnya. Dalam wawancara dan beberapa kali pertemuan, Citro selalu mengungkapkan pentingnya penanaman dasar bagi anak anak soal bagaimana cara menjalin relasi dengan baik dengan sesama manusia dan alam sekitar, “Minimal itu saja, lalu baru urusan dengan Tuhan. Bukan menomorduakan Tuhan, tapi Tuhan yang memberi kita pesan untuk melakukan itu.” Kata Citro saat diwawancara di dalam Wihara.

            Citro juga berprofesi sebagai guru TK dan SD, maka ia tahu benar bagaimana berkomunikasi dengan baik dengan anak-anak dan memberi pelajaran ilmu hidup. Ia juga memberi gambaran bagaimana ia memaknai keberagaman di Tekelan, ia memberi contoh sangat sederhana. “Bangunan gereja itu mas, tanahnya tanah hibah. Tanah pemberian, sama dengan Wihara itu. Bahkan yang memberi tanah itu secara cuma Cuma untuk dijadikan gereja, orang Islam.” seraya ia meminum kopi, dan sumringah saat menuturkan itu.

            Selama Citro hidup disana sejak lahir, ia belum pernah merasakan adanya gesekan yang disebabkan antar agama. Ia juga melengkapi cerita yang saya buka diawal tulisan ini soal ada beberapa keluarga yang memberi pilihan kepada anaknya untuk memilih agama. Citro memberikan pandangan bahwa agama juga termasuk hak asasi, ia yakin semua agama memberikan tuntunan yang baik dan tidak ada yang buruk diajarkan oleh agama apapun. “ Ya, asal nakanya udah diberikan nilai nilai luhur kebaikan, mau agama apa saja ya tetap baik karena dasarnya sudah baik.” Dan untuk menutup pertemuan hari itu, Citro menambahkan sebuah sindiran bagi semua orang beragama “Semua agama itu saya yakin memberi ajaran baik, ya yang bikin rusak itu manusianya, mas.” Sedikit bercana dari Citro membuat kami menutup wawancara itu dengan senyuman.