Menyintas di Tengah Stigma

Matahari sedang beranjak menuju puncak, sesaat setelah sholat Jumat pada 19 Februari 2016, ketika mas­sa yang mengatasnamakan diri sebagai Front Jihad Islam (FJI) mengokupasi Pondok Pesantren Waria (wanita pria) Al Faatah di Dusun Celenan, Desa Jagalan, Banguntapan, Bantul, Yogya­karta. Waktu itu adalah masa di mana isu LGBT menjadi hits di seantero Indonesia. Sehari sebelumnya, beberapa anggota organisasi masyarakat (ormas) itu menyebar­kan broadcast di media sosial kepada koleganya untuk ber­jihad, menutup pondok pesantren waria.

Kedatangan mereka disambut oleh polisi yang su­dah bersiaga di tempat. Kemudian mereka melakukan propaganda kepada penduduk sekitar berbekal salah satu ayat Al-Quran yang berbunyi: “ketika di dalam suatu tem­pat terdapat kedzaliman dan penduduk sekitar diam saja, maka azab Tuhan akan turun di daerah itu” seraya diikuti dengan teriakan “Allahu Akbar!”. Tak ada satu pun warga yang menggubris mereka.

Dirasa tak membuahkan hasil, kelompok jihad itu meninggalkan surat rekomendasi kepa­da perangkat desa yang secara garis besar, isinya meminta pondok pesantren waria untuk ditutup. Apabila tidak ditutup, FJI akan menegakkan hukum dengan syariah Islam seperti yang tertera di dalam surat.

Lima hari pasca kejadian itu, Shinta Ratri, ketua Pondok Pesantren Waria Al Faatah, datang ke balai desa atas permintaan FJI bersama dengan Camat Banguntapan, Ka­polres Bantul, Komandan Distrik Militer, dan sekitar 30 ang­gota FJI. Di sana, Shinta menjelaskan bahwa dirinya adalah penduduk asli setempat dan tidak pernah melakukan tindak kriminal apapun. Ia memiliki kegiatan pondok pesantren tersebut karena ingin memperbaiki keadaan teman-teman waria yang hidup di jalanan. FJI menuding bahwa pondok pesantren itu telah mengganggu kenyamanan warga sekitar. 

Di balai desa, Shinta merasa tertekan dan diadi­li. Ia diminta untuk tidak membawa rekan-rekan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk menemaninya. Dalih rembuk warga diucapkan untuk membujuk Shinta datang ke balai desa. FJI mengin­timidasi dan menekan perangkat desa agar mereka segera menutup pondok pesantren.

Dari mulut salah satu dedengkot FJI, sempat terlontar tudingan bahwa pondok pesantren tersebut digunakan sebagai tempat pesta miras, narkoba, dan karaoke berkedok agama. “Kalau mau kara­oke, kita tinggal pergi ke karaokean kok. Nggak usah re­pot-repot berkedok agama segala,” balas Shinta. “Saya lahir dan besar di sini. Tetangga-tetangga saya jauh lebih muda dari saya. Mereka tahu kegiatan saya sehari-hari. Sejak mereka kecil, saya sudah berdandan seperti ini.” 

Kami bersua dengan Shinta ketika ia sedang beranjak pulang menuju rumahnya dengan berjalan kaki. Mengenakan setelan dengan warna dominan merah, waria berjilbab itu kemudian menjamu kami di be­randa kediamannya yang bertipikal Joglo dan beralaskan tikar hijau. Pondok pesantren waria itu berdiri di tengah perkampungan padat penduduk, di sekitarnya terdapat rumah-rumah tradisional berarsitektur Jawa di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Untuk menuju ke sana, orang ha­rus melalui gang sempit.

Pesantren itu ada di kawasan Kotagede sejak tahun 2014. Pondok Pesantren Waria Al Faatah memulai kegiatannya sejak tahun 2006, selepas gempa bumi yang melanda Yogyakarta.

Ketika itu tumbuh dorongan spiritualitas dalam diri para waria di Yogyakarta. Kemudian mereka mengadakan doa bersama untuk teman-teman waria yang menjadi korban. Maryani, yang pada waktu itu menjadi pemimpin mereka, memberikan fasilitas tempat untuk melaksanakan doa bersama dan pengajian. Tak luput juga untuk mengundang seorang kiai untuk mem­bimbing mereka. 

Setelah momentum tersebut, mereka tidak ber­henti. Kegiatan mereka berubah menjadi pengajian rutin yang diisi oleh almarhum Kiai Haji Hamrolie Harun. Setelah diadakan lima kali, K.H. Hamrolie memberikan ide untuk mengadakan belajar agama Islam bersama bagi para waria, bukan hanya sekedar mengaji dan mendengar tausiyah saja. K.H. Hamrolie juga yang memberi nama Pondok Pesantren Al-Faatah. Nama itu berasal dari Pengajian Mujaha­dah yang diselenggarakan K.H. Hamrolie. 

Berawal dari ide itu, dicetuskan pondok pesantren waria sebagai wadah bagi para waria untuk belajar agama dan beribadah bersama. Salah satu latar belakang lahirnya pondok pesatren waria adalah ketidaknyamanan para waria ketika beribadah di ruang publik. Contohnya, banyak anak kecil yang melihat waria dengan rasa takut. Ada juga yang takut bersentuhan dengan waria, takut batal ibadahnya. 

Stereotype masyarakat yang menganggap waria sebagai ‘golongan pesakitan’ juga masih tertanam kuat. Keti­daknyamanan itulah yang membuat para waria selalu beribadah sendiri di rumah. Kemudian Maryani menye­diakan ruang yang nyaman untuk waria beribadah, yai­tu di pondok pesantren waria. Mereka bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi supaya kajian-kaji­an terhadap agama Islam menjadi lebih berbobot kare­na mereka tidak ingin main-main dalam belajar agama. 

Selama delapan tahun, mereka berkegia­tan di rumah kontrakan Maryani di Notoyudan hingga wafatnya Maryani pada 21 Maret 2014. Kemudian Shinta Ratri, yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Ketua Pondok Pesantren Al Faatah, memberikan penawaran untuk me­neruskan kegiatan mereka atau tidak. Para santri sepa­kat untuk meneruskannya hingga kemudian pada bulan April 2014, mereka pindah basecamp ke kediaman Shinta di Kotagede. Mereka pindah ke sana dengan pembenah­an struktur organisasi dan sistem pembelajaran.

Kesung­guhan mereka dalam belajar agama diwujudkan dengan keluarnya kurikulum dan silabus ala mereka. Kurikulum dan silabus yang ada, dilihat dari kemampuan para santri kare­na rata-rata para santri hanyalah lulusan SMP. 

Jauh sebelum dijadikan sebagai pondok pesantren, kediaman Shinta digunakan sebagai sanggar seni dan budaya bagi para waria. Kegiatan tersebut mulai dilaksanakan sejak tahun 2000 dan masih berlangsung hingga saat ini. Sanggar seni dan budaya untuk waria rutin menyelenggara­kan agendanya setiap hari Rabu. Orang-orang yang mengisi kegiatan di sanggar seni dan pondok pesantren pun sudah berbeda, meski keduanya berada di atap yang sama.

Pondok Pesantren Waria Al Faatah cukup memberi gambaran mengenai kiprahnya dalam membantu kaum waria untuk menemukan jalannya agar dekat dengan Sang Khalik. Mereka berfokus pada masalah religiusitas, mengayomi dan memberikan dukungan, serta tempat un­tuk berkumpul dan menempa diri. Pondok pesantren itu memutar roda hidupnya dengan kesadaran masing-masing pribadi. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dan diiku­ti dengan sukarela menjadi denyut nadi bagi pondok pe­santren itu.

Sama halnya dengan pondok pesantren yang lain, mereka juga memiliki kegiatan-kegiatan yang rutin dilaku­kan dan diikuti oleh para santrinya. Kegiatan belajar agama di pesantren waria selama ini tidak pernah diribut­kan oleh penduduk yang tinggal di sekitarnya. Di kawasan Kotagede, kegiatan belajar agama Islam berlangsung setiap hari Minggu pukul 17.00-21.00 waktu setempat. Di dalam pondok pesantren itu, terdapat papan yang bertuliskan jadwal kegiatan. Di antaranya belajar Iqra, tadarus, sholat berjemaah, dan diskusi. Kegiatan tersebut dilakukan agar pondok pesantren ini memiliki hasil yang dapat dilihat dan dinilai.

Selain menggelar kegiatan rutin, pesantren waria juga memiliki agenda tahunan. Saat bulan Ramadhan tiba, mereka rutin menggelar tarawih, tadarus Al-Quran, hing­ga berbuka puasa bersama. Menjelang Idul Fitri, mereka berziarah bersama ke makam keluarga dan waria yang sudah mendahului mereka, termasuk makam mendiang Maryani selaku pendiri pondok pesantren waria ini. Hari-hari besar agama Islam juga dirayakan dengan kegiatannya masing-masing.

Mempelajari bermacam hadis yang isinya melaknat kaum waria menjadi sajian utama dalam kegiatan belajar agama di pesantren waria. Dalam mendalami hadis tersebut, mereka (para santri-red) dibantu oleh beberapa ustaz dan perguruan tinggi terkait yang sudah menjalin kerja sama. Berbeda dengan pondok pesantren lain yang lazimnya mempelajari sejarah Islam dalam skala besar, pondok pesantren waria lebih menitikberatkan pada hal itu. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengkaji bagaima­na kedudukan waria di dalam agama Islam itu sendiri.

Hal ini sangat membantu para santri dalam menun­aikan ibadahnya. “Ketika kita merasa bahwasanya menjadi waria itu tidak berdosa, itulah kemudian kita melakukan ibadah ini penuh dengan keikhlasan semata-mata karena Allah,” ujar Shinta menjelaskan alasan adanya pembelaja­ran sejarah hadis tersebut. Mengetahui sejarah hadis, men­dalami, dan memahami posisi waria dalam Islam membuat para santri menjadi nyaman dan khusyuk dalam beribadah.

Karena kegiatan-kegiatan tersebut diikuti secara sukarela yang berarti tidak mengikat anggota, sering kali kegiatan-kegiatan tersebut hanya diikuti oleh segelintir santri saja. Terkadang, Shinta kerap berpikir mana yang lebih dipentingkan: kuantitas atau kualitas, karena teman-teman waria juga sedikit sulit untuk diajak bergabung. “Dari 223 waria yang ada di DIY, yang menjadi anggota ha­nya 42 orang saja. Dari 42 orang itu pun ketika pengajian di hari Minggu, yang mengikuti hanya 15 sampai 20 orang saja”. Keunikan dari pondok pesantren itu adalah empat anggotanya merupakan waria yang beragama non-muslim: dua waria beragama Kristen dan dua lainnya penganut Katholik. “Itu bukan karena kita mengkristenkan mereka, tetapi itu merupakan salah satu bentuk rasa solidaritas sesama kaum transgender untuk bergabung dalam kegiatan kita,” papar Shinta.

Mengapa bisa ada angggota yang non-muslim? Karena selain kegiatan yang bersifat ibadah, Shinta dan kolega juga rutin menggelar kegiatan non-ibadah seperti bakti sosial, klinik gratis, potong rambut gratis, melakukan kunjungan, dan diskusi atau sharing. Sharing problem di­adakan selepas sholat isya. “Saat sharing, kita membedah masalah teman-teman yang kemudian didampingi oleh ustaz. Seperti konseling, tapi didengar semua orang,” jelas Shinta.

Tidak hanya ustaz yang memberikan saran dan petuah, terkadang santri yang lain juga turut memberi nasihat bagi santri yang mencurahkan permasalahan­nya dalam sesi sharing. Kegiatan sharing permasalah­an ini dirasa menarik dan membantu para anggota yang beragama non-muslim. Beberapa kegiatan non-ibadah tersebut merupakan bentuk dari kepedulian pondok pe­santren pada masyarakat sekitar yang disokong oleh beberapa instansi pendidikan dan pemerintah. Itulah yang disukai teman-teman anggota non-muslim, karena juga bisa ikut berinteraksi dalam lingkaran komunitas.

Layaknya sebuah institusi yang mendidik, dinami­ka belajar mengajar di pondok pesantren diwarnai dengan adanya kurikulum dan silabus yang mereka buat. Hal ini dilakukan agar progress pembelajaran dapat dievaluasi se­bagai buah hasil keberadaan pondok pesantren. Tidak sep­erti evaluasi yang diadakan oleh instansi pendidikan pada umumnya, evaluasi yang dilakukan di pondok pesantren ini dilakukan setiap sebulan sekali. Evaluasi ini pun tidak bersifat memaksa sehingga santri di pondok pesantren ini dapat melakukan evaluasi setelah dirasa siap. “Dites sama ustaz, sudah sampai mana hafalan surat-surat pendeknya. Sudah sampai mana pengetahuan umumnya,” ujar Shinta memberi gambaran proses evaluasi.

Struktur kepengurusan yang tertata adalah respons dari ketekunan mereka dalam memuai sebuah komunitas. Terdiri dari pembimbing, pembina, ketua, sek­retaris, bendahara, seksi pemberdayaan santri, dan sek­si pembantu umum, mereka bahu membahu membangun pondasi pondok pesantren. Dalam kamus mereka, pem­bimbing dan pembina dibedakan menurut fungsinya. Pem­bimbing berfungsi sebagai pemberi saran, penasihat spiri­tual, dan advokasi, sedangkan pembina adalah pihak yang secara langsung memberikan bantuan baik berupa dana maupun mengirimkan ustaz untuk pondok pesantren terse­but.

Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat Kotagede, Kiai Abdul Muhaimin, kini menjadi pembimbing mereka. Pihak yang menjadi pembina adalah Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU). UNISNU berperan besar dalam pengadaan dana dan tenaga pendidik bagi pondok pesantren ini.

Seksi pemberdayaan santri memiliki tugas untuk membina anggota pondok pesantren agar berdaya secara ekonomi. Hal ini karena pondok pesantren waria memiliki pemahaman jika seseorang memiliki perekonomian yang stabil, maka akan stabil pula ibadahnya. Lalu seksi pem­bantu umum bertugas untuk menyiapkan tempat jika akan ada kunjungan dan menyiapkan perbekalan saat pondok pesantren hendak melakukan kunjungan.

Ada tiga pilar yang menjadi acuan pondok pesantren waria dalam membentuk dan melakukan suatu kegiatan. Tiga pilar tersebut meliputi: mendidik teman-teman waria tentang agama Islam, kemudian mendidik masyarakat tentang memahami waria yang bertujuan supaya masyarakat bisa menerima keberadaan waria. Yang ketiga adalah mengadvokasi pemerintah supaya pemerin­tah memberikan hak yang manusiawi kepada waria, sama seperti halnya warga negara yang lain.

Pondok Pesantren Goes To Campus” merupakan kegiatan yang telah belangsung cukup lama, sebagai im­plementasi dari pilar kedua. Menjadi narasumber maupun hadir dalam diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh be­berapa perguruan tinggi di Yogyakarta dan sekitarnya ada­lah wujud dari kegiatan tersebut. Hal itu menjadi kesempa­tan bagi mereka untuk menyuarakan kepedulian bagi kaum waria.

“Kita ke kampus dalam rangka poin kedua, pendi­dikan masyarakat, karena kita memandang mahasiswa adalah agen perubahan yang kemudian bisa membantu mengubah cara pandang,” papar Shinta. Cara pandang yang dimaksud adalah stigma masyarakat yang melekat pada kaum waria. Pondok pesantren itu juga tengah mengampa­nyekan penerimaan waria di dalam keluarga. “Penerimaan waria di dalam keluarga ini sangat penting agar waria tidak perlu lari dari rumah dan bisa diterima masyarakat dengan baik tanpa stigma,” terang Shinta mengenai pilar keduanya itu.

Beberapa pertanyaan muncul seputar rutinitas di dalam pondok pesantren. Bukan pada bagaimana mereka melakukannya, namun pada para ustaz yang mendampingi mereka. Mengingat kejadian yang belum lama ini terjadi, bagaimana pondok pesantren tersebut mampu menghadir­kan ustaz? Ternyata ustaz yang mengisi sesi belajar agama dan mendampingi kegiatan mereka semuanya datang se­cara sukarela. “Iya, dengan sukarela. Subhanallah mereka melamar sendiri,” ujar Shinta membenarkan.

Setidaknya ada enam ustaz yang pernah menga­jar di pondok pesantren tersebut. Kegiatan mengajar dan mengisi sesi diskusi dilakukan bergiliran di antara keenam ustaz tersebut. Dalam satu kali pertemuan, kegiatan men­gaji dan belajar agama di setiap minggunya diisi oleh tiga ustaz, begitu seterusnya.

Dewi Fortuna seperti menaungi mereka dengan adanya keenam ustaz yang secara sukarela mau menga­jar dan mendampingi mereka dalam menekuni agama. Berbeda dengan apa yang dialami oleh kaum waria lain­nya di daerah lain yang kesulitan menemukan ustaz untuk paling tidak, mengisi acara yang mereka buat. Kaum waria di daerah lain benar-benar tidak memiliki koneksi yang kuat terhadap ustaz yang ramah pada isu seperti LGBT.

Oleh sebab itu, banyak komunitas-komunitas seru­pa yang meminta bantuan dari Shinta untuk menghadirkan ustaz-ustaz yang mengajar dalam pondok pesantren waria Al Faatah sebagai pengisi acara yang mereka buat.

Salah satu kegiatan yaitu hari raya Isra Mi’raj batal digelar karena salah satu program kerja dalam pon­dok pesantren waria telah disalahartikan oleh salah satu media online yang tidak bertanggungjawab. Pembelajaran mengenai fikih waria adalah program kerja yang dimak­sud. Fikih waria sendiri dipelajari guna menjelaskan hak dan kewajiban yang dimiliki oleh waria dalam menunaikan ibadah.

Hal itu kemudian disalahartikan oleh media online Panjimas.com sebagai respons merajalelanya kaum LGBT di Yogyakarta hingga berani membuat fikihnya sendiri. Namun, Shinta menjelaskan bahwa mereka tidak mem­buat fikihnya sendiri. Mereka mempelajari fikih itu karena mereka tahu bahwa yang mampu membuat fikih hanyalah orang-orang tertentu yang memiliki pengetahuan luas ten­tang agama dan dianggap mahir dalam ilmu keagamaan. Tidak sembarang orang dapat membuat fikih, apalagi para anggota pondok pesantren yang dalam mempelajari agama pun masih membutuhkan bimbingan. Tindakan Panjimas.com itu adalah trigger dari okupasi yang dilakukan FJI ke­pada pesantren waria.

Pagi hari sebelum kedatangan FJI, Shinta didatangi oleh anggota reserse Kepolisian Sektor (Polsek) Banguntapan. Anggota reserse mengingatkan bahwa FJI akan datang ke rumah Shinta. Pukul setengah sembilan, beberapa anggota LSM juga hadir untuk mengabarkan akan kedatangan FJI. Mendengar kabar tersebut, Shinta segera melaporkannya ke LBH dan Polsek Banguntapan. Ketika FJI datang, pondok pesantren dalam keadaan kosong. Shinta saat itu sedang menunggu dengan cemas di Polsek.

Setelah kejadian yang didalangi oleh FJI itu, banyak dukungan yang datang baik dari Komnas Perempuan, Komnas HAM, dan DPD yang men­dukung bahwa kegiatan di pesantren waria adalah kegiatan yang baik dan mohon untuk tidak dihentikan. “Ya memang kita maunya seperti itu, tapi kita juga meminta jaminan keamanan dari pemerintah kalau tidak akan ada lagi per­buatan represif mereka karena kita ini korban kebebasan beragama,” harap Shinta.

Para waria di pesantren juga ti­dak menuntut pemerintah untuk membubarkan FJI. “Kita berdiri sendiri-sendiri. Ya sudahlah kalo mereka emang kaum fundamentalis, kita juga gak akan mengganggu mereka. Kita ini cuma waria yang ingin beribadah, itu saja,” lanjut Shinta. Ia heran, kenapa mereka (ormas-red) sibuk memastikan orang lain masuk neraka. “Mereka sibuk mencarikan ayat-ayat yang membuat kami seakan-akan su­dah pasti masuk neraka. Ngapain? Sibuklah untuk memasti­kan diri kalian masuk surga, gitu.

Kejadian itu membuat sebagian besar santri dihinggapi rasa trauma. Mereka takut jika tiba-tiba di tengah jalan dihadang oleh ormas. “Lha kok kamu takut, wong ibu aja yang rumahnya udah diketahui gak takut kok. Sepertinya orang itu kurang kerjaan kalau mengha­dang kamu,” begitu Shinta menenangkan rekan-rekann­ya.

Beberapa santri asal Bantul masih belum berani untuk menginjakkan kaki di kediaman Shinta. Kerap kali Shin­ta berpikir bagaimana cara untuk membalikkan trauma teman-temannya. Anggota reserse dari Polsek Banguntapan sering mampir menyambangi kediaman Shinta untuk me­mantau kegiatan di pesantren. Mereka khawatir akan ter­jadi amukan dari ormas lagi.

Anggota pondok pesantren tetap memegang teguh pendiriannya karena itu adalah hak yang harus diperjuang­kan, tidak datang dengan sendirinya. Terlebih hak untuk beribadah bagi seorang waria. Halangan yang menimpa seseorang ketika ingin beribadah membuat hati mere­ka menjadi pilu. “Saya juga merasa sedih ketika seorang Kristen kemudian dihalangi untuk menyelenggarakan iba­dahnya. Perasaannya pasti sama dengan apa yang saya ra­sakan. Kepedihannya sama, bagaimana dia menjadi manu­sia yang terhalangi untuk mengekspresikan keimanannya,” ujar Shinta dengan nada lirih.

Semua polemik itu adalah hasil dari perbedaan pendapat yang menjadi dasar pemikiran masing-masing kelompok. Shinta tidak menyalahkan mereka yang kon­tra dengan keberadaan pondok pesantren Al Faatah. Ia berpendapat bahwa tiap orang memiliki pemahamannya masing-masing. Yang ia sayangkan adalah FJI tidak melaku­kan klarifikasi terlebih dahulu informasi yang mereka dapat. Mereka spontan memaksakan pendapat serta pe­mahaman yang mereka miliki pada orang lain. “Kemudian mereka memaksakan itu seolah-olah mereka hidup sendiri di dunia ini dengan program seperti itu,” keluhnya ter­hadap kejadian itu.

“Menurut saya, Jogja sudah ber­henti nyaman, tidaklagi berhati nyaman. Seharusnya pemerintah bisa beraksi lalu polisi bisamenghentikan ke­giatan brutal ormas,” lanjutnya. Polisi atau pemerintah ti­dakperlu membubarkan ormas-ormas fundamentalis, tetapi bagaimana caranya supayamereka tidak lagi melakukan tindakan brutal dan represif.

Shinta membayangkan dengan mata sedikit menerawangbagaimana ormas tersebut bisa membalikkan nama dari toleransi menjadiintoleransi. Sementara itu pada tahun 2011 lalu, Yogyakarta ditahbiskan sebagaikota dengan predikat City of Tolerance.

Gregorius Bramantyo (140905484)