Ksatria Gagah di Dunia Dansa

Tedjo Wiyono (paling kiri) bersama perwakilan-perwakilan Papua di PON XIX 2016

Olahraga dansa biasanya identik dengan olahraga yang dilakukan perempuan. Namun jangan salah sangka, banyak juga laki-laki yang menggeluti olahraga tersebut. Salah satunya, Tedjo Wiyono.

Lelaki yang lahir di Kalimantan, 13 November 1987 ini merupakan mantan atlet cabang dance sport yang pernah berulang kali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional bersama partnernya, Ruci Anggraini. Ia pernah mengikuti 22 pertandingan internasional kategori Amateur Ballroom, dan empat pertandingan internasional kategori Amateur Latin. Ia pernah mendapat peringkat 1 sebanyak empat kali dan peringkat terendahnya adalah Top 15. Informasi selengkapnya dapat dicek disini.

Selain pertandingan internasional, ia juga kerap bertanding di pertandingan berskala nasional. Pertandingan terakhirnya adalah mewakili Papua dalam Pekan Olahraga Nasional XIX yang diadakan pada tahun 2016. Ia memperoleh sebuah medali emas di kategori dansa standar Rising Star Standard Ballroom, dan dua buah medali perunggu di kategori dansa standar FFA Slowfox dan Amateur Standard Ballroom.

Ia memulai karirnya pada tahun 2011. Ia memilih olahraga dansa ballroom karena kecintaannya pada musik klasik. Setelah melanglang buana di berbagai kompetisi di skala nasional dan internasional, ia memilih pensiun pada tahun 2016. Alasan ia berhenti menjadi atlet adalah ia tidak suka dengan “politik” yang ada di pertandingan tingkat nasional.

“Pertandingan di Indonesia itu sudah ada yang atur, jadi tidak seru. Mungkin sih, aku kembali lagi jadi atlet. Namun aku hanya mau bertanding di kancah internasional. Pertandingannya lebih fair,” katanya.

Sekarang, ia mengisi waktunya untuk melatih dansa dan biola, serta menyiapkan diri untuk melanjutkan studinya di Negeri Sakura.

STIGMA NEGATIF

Menjadi seorang lelaki yang menggeluti dunia dansa tentunya tidak selalu mendapat respon positif dari masyarakat. Ia kerap kali mendapatkan sebutan “banci” dan lain-lain. Namun, ia memilih mengabaikan itu semua dan fokus untuk tetap berprestasi dan meningkatkan kemampuannya.

“Pandangan negatif pasti ada. Tapi biasanya di latin sih, bukan standard. Aku kan standard. Kalau latin kan memang harus gemulai gitu. Kalo orang awam liat aku ya paling bilang ih geraknya kayak cewek. Tapi aku sih nggak peduli. Iyain aja kan selesai”, ujarnya sambil tertawa.