Kelompok Pembangun Kota

`           Arkom merupakan sebuah organisasi non-profit yang berdiri sejak 2010. Kemunculan Arkom tidak bisa dilepaskan dengan program rekonstruksi bencana tsunami di Aceh yang di motori oleh urban poor linkage pada tahun 2005. Karena adanya kesamaan visi dari orang-orang yang terlibat dalam program itu, maka terbentuklah Arkom.

            Berawal dari Gerakan Arsitek Masyarakat terinspirasi oleh kerja individu sebagai staf profesional dalam rekonstruksi Pasca Tsunami Aceh di bawah Urban Poor Linkage (UPLINK) Indonesia pada tahun 2005-2007. Beberapa arsitek, insinyur sipil, panitia masyarakat dan staf sekretariat memperkenalkan pendekatan baru dalam pembangunan, pendekatannya adalah melibatkan masyarakat tidak hanya dalam pembangunan fisiknya tetapi juga dalam pengambilan keputusan maupun gagasan tentang pembangunannya. Setelah berhasil melakukan rekonstruksi di 23 desa, membangun 3.331 rumah dan semua proyek infrastruktur dengan jaringan komunitas, beberapa staf teknis dan sosial berpikir bahwa pengetahuan itu harus dibagikan untuk komunitas lainnya.

Akhirnya pada bulan Juli 2007 beberapa mantan staf Aceh bertemu di Kota Yogyakarta dan sepakat untuk membentuk sebuah organisasi baru dengan semangat untuk menjaga pengetahuan dan pendekatan yang dilakukan di Aceh harus dilanjutkan dengan pekerjaan nyata dalam konteks perkotaan, perdesaan, warisan dan pasca bencana di Indonesia. Kota Yogyakarta adalah kota yang penting, karena di Yogyakarta kita memiliki banyak pengalaman sebelumnya (sebagai individu) dalam rekonstruksi pasca gempa, daerah slum, tempat peninggalan yang terancam oleh erupsi gunung berapi Merapi.

            ArkomJogja bekerja dengan masyarakat marjinal di daerah kumuh dan pedesaan, tempat peninggalan bersejarah dan pra / pasca bencana. Arkomjogja menggunakan arsitektur sebagai media untuk mengorganisir masyarakat lokal sampai tingkat nasional maupun pengungsi dan masyarakat yang terpinggirkan (darurat, bencana alam/sosial, penggusuran, dll). Arkom menggunakan arsitektur dan pengetahuan lokal sebagai media untuk mengorganisir masyarakat menggunakan pendekatan yang partisipatif dan mengacu pada permasalahan yang ada sehingga menciptakan kedamaian, keadilan sosial, kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.

            Semenjak, Arkomjogja telah berada di Asian Coailition for Community Action (ACCA) Program yang dikoordinasi oleh ACHR dengan jaringan 19 negara lainnya di Asia. Melalui program ACCA, Arkomjogja mendapat kesempatan untuk menfasilitasi pengorganisasian masyarakat dengan menggunakan metode pengorganisasian secara partisipatif dengan judul kembali ke kampung yang bertempat di Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Makasar, dan Kendari.       Pada 2011 CAN (Community Architects) Indonesia mengadakan pertemuan pertama yang diselenggarakan oleh Arkomjogja dengan dukungan CAN dan ACHR. Pertemuan pertama CAN Indonesia diadakan di kota Yogyakarta dan ada perwakilan dari beberapa kota di Indonesia; dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Makassar. CAN Indonesia setuju untuk mengadakan pertemuan untuk setiap tahun dengan tujuan; berbagi pengalaman dan pengetahuan melalui kerja sama dengan komunitas marjinal di Indonesia.

            Pada tahun 2014 diadakan pertemuan kedua CAN Indonesia di Yogyakarta. Ada perwakilan arsitek komunitas dari Jakarta, Bandung, Semarang, Palembang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, dan Makassar. Perwakilan IAI Indonesia, Komunitas Architecs Senior Indonesia, perwakilan universitas dan pemerintah kota Surakarta juga datang ke pertemuan kedua.

            Perkembangan gerakan arsitek Komunitas di Indonesia sedang meningkat terutama di restrukturisasi kampung kota. Universitas juga sudah mengambil peran dalam pendekatan berbasis masyarakat, dan kurikulum arsitektur di beberapa universitas sudah memiliki arsitektur komunitas sebagai kurikulum baru.

            Pemerintah juga mulai menerima gagasan yang diajukan oleh CAN Indonesia.
Setelah dua tahun, pertemuan tahunan CAN Indonesia diselenggarakan oleh Arkomjogja untuk melakukan lokakarya pemetaan di Kota Surakarta pada Januari 2017. Lokakarya ini melibatkan profesional muda dan mahasiswa dari kota-kota di Indonesia; Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya, Pontianak, Makassar dan Kendari. Pada akhir lokakarya pemetaan partisipatif itu, setiap kota menyetujui untuk melakukan pemetaan partisipatif pada daerah atau pemukiman yang seringkali dianggap kumuh berdasarkan pengetahuan yang mereka dapatkan selama lokakarya.  Penciptaan komunitas yang bekerja dan mencari solusi dengan kepentingan masyarakat muncul dari masing-masing kota. Kebutuhan dalam memperkuat CAN Indonesia Networking diperlukan untuk mengorganisir anggotanya.
            Pada Februari 2017, BISA memfasilitasi pertemuan tahunan CAN Indonesia di Yogyakarta dan ada 17 perwakilan Yogyakarta, Surabaya, Solo, Jakarta, Bandung, Semarang, Pontianak, dan Makassar. Pertemuan ini diadakan untuk mengkonsolidasikan ide dan pendekatan berbasis masyarakat dengan semangat kreasi. Setiap kota mempresentasikan ide, kegiatan, rencana kegiatan, dan juga menyajikan tantangan yang akan dihadapi dalam setiap kegiatannya.

            Dapat disimpulkan bahwa kegiatan mendatang akan sangat beragam. Setiap karakteristik kota membutuhkan kreativitas kerja arsitek komunitas. Kebutuhan untuk mengembangkan “kreasi bersama” dalam jaringan tingkat nasional diperlukan, itu sebabnya CAN Indonesia sebagai platform gerakan arsitek komunitas membutuhkan dukungan untuk mengembangkan gerakannya. BISA Indonesia mempromosikan metode dan pendekatan kerja yang berbeda untuk menciptakan perubahan sosial di tingkat komunitas. Hubungan yang baik dengan universitas dan pemerintah lokal maupun pusat perlu didorong untuk membuat perubahan secara nyata. Pengembangan kapasitas arsitek komunitas yang bekerja dengan masyarakat adalah proses pembelajaran kerja pengorganisasian masyarakat yang diperlukan dan untuk memperkuat jaringan CAN Indonesia.

            Usia Arkom masih dibiling cukup muda untuk ukuran sebuah lembaga non-profit. Setelah 8 tahun berdiri, orang yang belajar dan bekerja di Arkom silih berganti, pada sub bab berikutnya akan dijelaskan mengenai struktur organisasi kepengurusan sekarang.

            Beberapa program pengorganisasian dilakukan arkom Arkom Jogja menggunakan arsitektur sebagai alat untuk mengorganisir masyarakat, dengan menggunakan pendekatan partisipatif. Dalam programnya Arkom membagi dua divisi, yaitu rural dan urban.

            Kegiatan yang difasilitasi oleh Arkom antara lain:

  • Peningkatan komunitas slum dan squatter
  • Peningkatan komunitas pasca bencana
  • Pelestarian warisan dengan komunitas
  • Peningkatan komunitas areal pedesaan
  • Pembuatan dana usaha sosial
  • Arkom institute

            Tujuan dari program yang diadakan oleh Arkom Jogja

  • Untuk meningkatkan kapasitas anggota arkom dan komunitas dampingan dalam rangka mempromosikan pendekatan berbasis masyarakat.
  • Untuk mengimplementasikan model peningkatan permukiman kumuh yang partisipatif dan komprehensif