Inklusif dalam Diam

Universitas Atma Jaya Yogyakarta bukan hanya menjadi tempat menuntut ilmu, namun juga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Davie Muchlisin (23). Berbeda dari mahasiswa-mahasiswa lain yang menjadikan kuliah sebagai ajang menuntut ilmu setinggi-tingginya demi memperoleh gelar sarjana. Ketiadaan fasilitas khusus bagi difabel yang menjadi dorongan besar bagi Davie untuk berkuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

“Di Universitas Atma Jaya Yogyakarta belum ada unit layanan disabilitas, supaya mahasiswa dan dosen dapat sadar akan keberadaan para difabel di kampus ini,” ujar Davie ketika ditanya seputar alasan kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Keterbatasan pendengaran yang ia miliki bukan menjadi sebuah halangan untuk tetap melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Harus berinteraksi dengan orang-orang yang tidak dapat berkomunikasi dengannya bukanlah hal yang mudah. Davie harus memberi pengertian terlebih dahulu kepada orang yang hendak ia ajak berkomunikasi.

“Kesulitan untuk komunikasi, karena mahasiswa tidak tahu caraberkomunikasi dengan tuli. Lalu karena tuli sulit ngobrol santai dengan teman-teman. Di kuliah juga aku mengadvokasi dosen tentang memberikan hak asasi para difabel. Dengan cara menyediakan typer atau juru bahasa isyaratSampai saat ini masih proses mengadvokasi sebab typer masih sedikit, banyak yang sudah lulus. Typer-nya sudah semakin sedikit,” jelasa Davie.

Menyadari kebutuhannya dan teman-teman sepenanggungannya, laki-laki 23 tahun ini kemudian menjadi seorang pelopor inklusifitas di ranah pendidikan, khususnya di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sebelumnya Davie telah menjadi seorang guru bahasa isyarat di salah satu kegiatan mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia menilai beberapa universitas d iIndonesia telah ramah terhadap difabel, maka ia ingin mewujudkan Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai universitas yang juga ramah terhadap difabel.

Davie menjadi narasumber dalam diskusi “Speak Up”

Davie telah merancang berbagai kegiatan yang dapat memupuk kesadaran seluruh warga Universitas Atma Jaya Yogyakarta terhadap keberadaan difabel. Beberapa diantaranya adalah dengan menjadi narasumber dari seminar atau diskusi seputar difabel yang bertajuk “Speak Up”. Dalam kegiatan yang digelar pada Jumat (30/11/2018) lalu, Davie dengan ditemani seorang teman tuli menyampaikan pengalaman serta keluh kesahnya terhadap fasilitas difabel.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, Davie juga menjadi ketua sekaligus penggagas dari seminar tuli yang bertajuk “Menyuarakan Dunia Sunyi”. Seminar yang diselenggarakan untuk pertama kalinya di Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2019 mendatang.

“Acara ini tu karena Davie merasa di Atma Jaya belum ada fasilitas yang memadai buat difabel, makanya dia buat acara ini dan minta aku jadi wakilnya,” ujar Ocha, selaku wakil ketua dari kegiatan seminar tuli.

Bagi Davie, upaya sekecil apapun memiliki potensi untuk menjadi besar. Hal ini merupakan wujud dari upaya mewujudkan harapannya pada Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang inklusif. Supaya slogan bukan hanya menjadi sekedar slogan, namun merupakan tindakan nyata.

“Harapan saya harus ada unit layanan disabilitas. Untuk kelas-kelas harus ada tenaga pengajar khusus yang mengajar penyandang disabilitas juga. Saya mau orang-orang menghormati penyandang disabilitas,”pungkas Davie.


Maria Utari Dewi (160906149)

Agatha Duhita (160906035)

Rosiana Dini (160905890)

Bernadetha Juan Meko (160906074)