Adven, Dinamika Lingkungan Menyiapkan Natal

Salah satu sesepuh umat Lingkungan, Yusup Kiya menyalakan lilin Adven untuk memulai acara. (4/12/18)

Gereja merayakan peristiwa Kelahirang Sang Juru Selamat setiap tanggal 25 Desember. Natal tentunya tidak berdiri sendiri, ada beberapamomen yang juga penting kita cermati sebelum Natal. Momen ini juga disebut denganAdven, sebagai salah satu persiapan untuk menyiapkan hati, pikiran, dan batinkita dalam menyambut Natal.

Apa Adven itu?

Umat kristiani dalam komunitas maupun lingkunganmengadakan pertemuan Adven untuk mempersiapkan Natal. Kegiatan tersebut berisidiskusi, dinamika, dan sharingterhadap suatu tema serta dimulai 4 minggu sebelum Natal.

“Adven itu pasti tiap tahun ada,kita peringati dan kita rayakan di setiap bulan Desember. Masa adven bagi kitamenjadi masa pengharapan, penantian, menunggu-nungu kedatangan kelahiran sangpenebus Emmanuel yang hendak hadir dalam hidup kita. Kehadirannya untuk keselamatan kita umat manusia. Maka kehadiran Tuhan dalam hati pikiran itusungguh kehadirannya mengena dalam hidup kita. Kita mesti mepersiapkan diri sebaik-baiknya.” Ujar Romo Paroki St. YusupBintaran, Rm. Yustinus Agus Purwadi, Pr.

Pasalnya yang mayoritas orang tahu selama ini,persiapan Natal berbentuk pembelian baju baru dan lain sebagainya. Persiapan masih berbentuk fisik, termasuk bekerja bakti. Padahal yang dimaksud adalah bagaimana cara memantaskan diri mulai dari hati dan pikiran untuk menyambut Sang Kristus hadir pada Saat Natal.

“Adven mengajak kita untuk mempersiapkan diri dengan baik. Dengan cara mempersiapkan hidup kita sebaik-baiknya. Caranya adalah bagaimana kita menyadari diri kita. Apa sampai saat ini diriku pantas, siap menyambut kehadiran Tuhan? yang menjadikan kita tidak pantas itu kan karenaseringkali jatuh dalam dosa, kemunafikan, kesombongan, ketidakjujuran. Maka kitaharus memperbarui diri. Kesombongan, kemunafikan harus dibersihkan, dengan carakita mau bertobat. Bertobat itu artinya menanggapi mengabdi kehidupan baruhidup dengan jujur, adil,  dan semangatkasih. Nah maka bila kita hidupnya belum seperti itu, Adven menjadikankesempatan bagi kita untuk melakukan itu,” ungkap Romo Agus.

Rm. Yustinus Agus Purwadi, Romo Paroki Santo Yusup BintaranYogyakarta saat diwawancara. (10/12/18)

Pelaksanaan Adven

Realisasi kegiatan yang dilakukan saat pertemuan Adven, tidak semata-mata mebahas mengenai kehidupan rohani saja. Akan tetapi,pertemuan yang dilakukan setiap minggunya memiliki satu tema besar yang sangat berkaitan dengan kondisi nyata yang ada di Indonesia bahkan dunia.

“Tema-tema ntah itu prapaskaah, adven, atau kesempatan lain, selalu ada sangkut paut nya dengan kehidupan nyata, riil, di tengah masyarakat dan dunia. Karena yang menjadi suka cita dan kegembiaraan dunia itu menjadi sukacita gereja pula. Begitu pula dengan keprihatinan dunia. Gereja selalu solider dengan keprihatinan yang terjadi,” jelasnya.

Sifat dari Adven ini sebenarnya tidak wajib, kembali lagi bagaimana umat kristiani memaknai kehadiran Juru Selamat pada saat Natal. Meski demikian terdapat perbedaan orang yang mengikuti rangkaian Adven dan yang tidak.

“Segala sesuatu yang menggunakan persiapan berbeda dengan yang menerima begitu saja. Orang yang mempersiapkan diri dengan baik, kemantepannya berbeda dengan orang yang tanpa persiapan papun. Tergantung atas penghayatan dan tanggung jawab iman kita tadi. Kalo sungguh bertanggung jawab atas iman kita, pasti kita mempersiapkan dengan baik. Ini juga yang menunjukan kualitas dan kedewasaan iman seseorang,” tambah Romo yang berasal dar Sragen itu.

Sementara itu, melaksanakan Adven cenderung terjadi dalam kelompok-kelompok kecil, seperti keluarga, lingkungan, dan paguyuban umat. Dinamika kelompok menjadi sangat penting agar Adven dapat terlaksanasebagaimana mestinya. Tentunya hal ini juga tidak dapat dilepaskan dari partisipasi umat kristiani. Salah satu lingkungan di Gereja Sato Yusup Bintaran,yakni Santa Anna pun ikut serta dalam mengadakan kegiatan Adven ini. Meski mayoritas peserta adalah orang tua tetapi masih ada usia anak-anak yang juga turut ambil bagian di dalamnya.

“Iya ini yang datang kebanyakan orang tua, paling ada anak satu atau dua. Kebanyakan masih pada ujian atau ada tugas jadi alasannya untuk tidak bisa hadir. Siapa lagi kalo bukan yang tua-tua ini yang melaksanakan warisan gereja, harapannya ini menjadi contoh untuk generasi selanjutnya agar dapat berpartisiapasi nantinya,” tutur Pengajar Katekis Lingkungan, Ary Raharta.


Suasana kegiatan pertemuan Adven di Lingkungan Santa Anna, Paroki Santo Yusup Bintaran Yogyakarta. (4/12/18)

Agatha Duhita/160906035