5 Fakta Menarik dibalik Napak Tilas Romo Van Lith

  • admin
  • 11/12/2018
  • Comments Off on 5 Fakta Menarik dibalik Napak Tilas Romo Van Lith

MUNTILAN – Langit berawan di kota Muntilan, saksi perjalanan sejuta umat beriman. Kota yang menyimpan sejuta misteri di masa lampau kali ini menjadi salah satu destinasi wisata rohani yang unik. Letaknya di kaki Gunung Merapi, diapit dua kota besar, Magelang dan Yogyakarta. Penempatan tersebut menjadikankota mungil ini menjadi syahdu karena jauh dari hingar bingar kota. Kota mungil ini hanya memiliki satu tanah hitam utama, Jalan Pemuda.

Bagi sebagian umat Katolik di Indonesia pasti sudah tak asing dengan kalimat Betlehem Van Java. Kalimat tersebut merepresentasikan Muntilan. Jelas saja, kota mini ini menjadi saksi pengembangan iman umat Katolik di Pulau Jawa. Kota mungil ini menjadi tujuan dari seorang misionaris dari Belanda, Romo F.G. Josephus Van Lith untuk menyebarkan benih cinta kasih Kristus. Meski berasal dari Belanda, sosok Romo Van Lith berbeda dengan para penjajah zaman dulu.

 Sosoknya dikenal sangat akrab dengan masyarakat setempat, beliau juga menyebarkan visi misi pendidikan bagi pribumi. Masa itu memang masih dekat dengan masa penjajahan yang masih banyak menyebut pribumi dan bangsawan. Kisah hidup Romo Van Lith di Muntilan ini menjadi benih awal tumbuhnya iman katolik. Romo Van Lith memiliki peran pada muridnya sebagai agen perubahan sosial lewat jalur pendidikan yang dipilihnya untuk masuk ke masyarakat pribumi.  Beliau memiliki pandangan bahwa masyarakat pribumi mampu mengubah Indonesia lewat karakter katolik yang kuat.

Kegiatan Napak Tilas etika tiba di Kapel Kerug setelah perjalanan dari Borobudur/dokpri

Pelajaran untuk menjadi seorang agen perubahan sosial yang ditawarkan Romo Van Lith ketika bermisi di tanah Jawa ternyata masih dihidupi hingga saat ini. Setelah mengalami banyak perubahan pada bentuk sekolah yang didirikan oleh Romo Van Lith, saat ini SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama masih menurunkan kegiatan yang tidak melupakan sosok Bapak agen perubahan sosial di Pulau Jawa. Salah satunya adalah kegiatan Napak Tilas.

Napak Tilas berarti berjalan kembali mengikuti jejak perjalanan Romo Van Lith selama bermisi di Tanah Jawa. Tentunya Romo Van Lith tidak akan hanya berdiam diri di satu daerah saja, terbukti dari kegiatan Napak Tilas ini yang masih dijalankan untuk saat ini. Kira-kira apa aja ya fakta menarik dibalik itu?

  • Mengikuti jejak perjalanan romo Fransiscus Georgeus Josephus Van Lith

Perjalanannya tidak hanya berhenti di desa Semampir saja, namun juga turut melewati Borobudur, kapel Kerug dan Sendang Sono. Menurut kesaksian masyarakat setempat, Romo Van Lith sampai ke daerah pegunungan seribu dengan menyebarkan warta sukacita. Terbukti dari keberhasilannya dalam membaptis 162 orang di Sendang Sono yang saat ini menjadi tempat peziarahan bagi umat katolik.

Pembacaan janji ketika tiba di Sendang Sono/dokpri
  • Hanya dilakukan satu kali selama di Van lith

Kegiatan Napak Tilas dilakukan semasa siswa dan siswi duduk di kelas sepuluh, dalam bulan April-Mei. Selain untuk melestarikan kebudayaan dan kebiasaan yang sudah ada, Napak Tilas ini menjadi salah satu titik penentuan bagi murid SMA. Ketika sampai di Sendang Sono, siswa-siswi Van Lith harus mengucapkan surat pernyataan untuk mau melanjutkan kehidupannya di Van Lith. Menjadi hal yang paling diingat oleh para lulusan Van Lith karena kegiatan ini adalah sesuatu yang beda dengan sekolah asrama lain.

Demikian pula hal serupa yang dikatakan oleh Pavali 11 sekaligus Wail Dekan III FISIP UAJY, Pupung Arifin “Ya itu yang paling saya ingat ketika saya harus berdiam diri, berkontemplasi membayangkan dan menjalani perjalanan kehidupan Romo Van Lith ketika bermisi di tanah Jawa,” ungkapnya.

  • Menempuh Perjalanan 30 KM dengan berjalan kaki

Untuk harus sampai ke Sendang Sono, adarute yang harus dijalani oleh anak Van Lith. Borobudur-Kerug-Sendang Sono yang memakan jalan sepanjang 30 kilometer jauhnya. Sudah menjadi perjanjian di awal bahwa untuk menempuh pendidikan di SMA asrama ini harus berjalan kaki kemana-mana. Peraturan tersebut juga masih berlaku ketika kegiatan Napak Tilas berlangsung.

  • Harus menjalani retret Visi Misi

Untuk sampai ke titik perjalanan Napak Tilas, setiap warga Van Lith harus mengikuti serangkaian kegiatan retret Visidan Misi untuk mengenalkan tujuan dari romo Van Lith melakukan perjalanan dan juga penjajakan awal untuk perjalanan Napak Tilas nantinya. Kegiatan retret ditujukan agar siswa-siswi benar-benar menghidupi semangat Van Lith selama menjalani kehidupan berasrama dan bersekolah di sini. Juga memotivasi untuk semakin bersemangat ketika kegiatan Napak Tilas berlangsung. “Harus retret dulu, kalo nggak retret ya nggak dapat pin, retret juga harus diikuti full ampai akhir,” ujar Emil Valentino, siswa Van Lith.

  • Pin simbol perjuangan

Setelah mengucapkan surat pernyataan danberjanji pada diri sendiri, setiap siswa mendapatkan hadiah pin untuk selalu disematkan di kerah seragam sekolah. Namun ternyata tidak semua anak Van Lith yang telah menempuh kegiatan Napak Tilas ini langung mendapatkan pin loh. Sekolah sudah mengawasi terlebih dahulu siapa saja siswa yang dianggap kurang layak mendapatkan penghargaan tersebut. Setelah mengetahui bahwa seseorang tidak mendapatkan pin maka diaharus dibimbing dan memperbaiki diri sesuai dengan kriteria yang berlaku diantaranya adalah nilai sekolah dan sikap ketika di sekolah dan asrama. Tak lupa juga pin berbentuk logo sekolah itu harus dijaga dengan baik dan digunakan setiap harinya.

Perjalanan Napak Tilas yang sudah dijalani sejak Subuh, menuju ke Borobudur/dokpri

Kelima hal di atas menunjukkan betapa spiritualitas Van Lith sangat dihidupi ketika bersekolah di sana. Kegiatan Napak Tilas sendiri di awal memang merupakan murni dari pengelolaan perancangan program sekolah. Hal tersebut memang dibenarkan oleh seorang pendamping, “Memang awalnya masih mencari bentuk kegiatan sekolah yang memang sesuai dengan visi misi Van Lith. Maka dari itu dipilihlah kegiatan ini untuk menjadi memori perjalanan misi yang selalu kita hidupi,” ungkap Ag. Sukirdjo (26/11/2018).

Penulis:

Anselma Hesti Widyastika / 160906005