Inilah Cara Yogyakarta Menghibur Rakyatnya

Pasar Malam Perayaan Sekaten merupakan salah satu perayaan tahunan yang dinanti-nantikan masyarakat. Pasar Malam Perayaan Sekaten tahun ini resmi dibuka pada tanggal 2 November 2018 lalu. Peresmian dilakukan oleh wakil gubernur D.I. Yogyakarta, KPGAA Paku Alam X dan wakil walikota D.I Yogyakarta Heroe Poerwanto. Pasar Malam Perayaan Sekaten yang berlokasi di Alun-Alun Utara Yogyakarta ini akan digelar selama 18 hari, yakni dari tangal 2 – 19 November 2018. 

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Pasar Malam Perayaan Sekaten menyediakan berbagai macam wahana hiburan, aneka macam jajanan, hingga kebutuhan sehari-hari seperti pakaian. Sebagai salah satu tradisi tahunan yang di adakan di Yogyakarta, Pasar Malam Perayaan Sekaten selalu mendapat tempat tersendiri bagi masyarakat Yogyakarta. Contohnya bagi Sari, seorang gadis kelahiran Yogyakarta. Sari mengungkapkan antusiasmenya mendengar kabar bahwa Pasar Malam Perayaan Sekaten sudah kembali digelar. “Sekaten itu perayaan tahunan yang paling aku tunggu. Tiap tahun tidak pernah absen pergi ke Sekaten bersama teman-teman,” ungkapnya.

Pada awalnya Sekaten diadakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang lahir pada tanggal 12 bulan Maulud, bulan ketiga dari kalender Jawa.

Diawali pada tahun 1939 Caka atau 1477 Masehi, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara dengan dukungan para wali membangun Masjid Demak.

Selanjutnya, berdasar hasil musyawarah para wali, digelarlah kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama 7 hari menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Agar kegiatan tersebut menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua perangkat gamelan buah karya Sunan Giri membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Dari kata Syahadatain itulah kemudian muncul istilah sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan. Sekaten terus berkembang dan diadakan secara rutin tiap tahun seiring berkembangnya Kerajaan Demak menjadi Kerajaan Islam.

Demikian pula pada saat bergesernya Kerajaan Islam ke Mataram serta ketika Kerajaan Islam Mataram terbagi dua (Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta), sekaten tetap digelar secara rutin tiap tahun sebagai warisan budaya Islam.

Sekaten yang dilakukan di Kota Yogyakarta merupakan acara berbasis budaya dan ekonomi yang diselenggarakan bersama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Daerah DIY bersama dengan Kraton Yogyakarta. Pada tahun 2018, Gelaran Sekaten hanya dilaksanakan pada tanggal 2 – 19 November. Pendeknya durasi sekaten tidak juga menyurutkan animo asyarakat dalam membuka standpada perayaan sekaten 2018, data yang dihimpun dari Kantor Dinas Industri dan Perdagangan Kota Yogyakarta, menyebutkan bahwa 502 stand telah terisi dan menyisakan 10 stand saja. Hal ini turut menggairahkan target pendapatan yang diharapkan oleh Pemkot Kota Yogyakarta yakni 1 Miliar Rupiah bukan sesuatu yang mustahil.

DPRD Provinsi Yogyakarta melalui staff Humasnya, Roberthus Adhi menjelaskan bahwa perayaan Sekaten merupakan perayaan yang sangat baik, karena melalui sekaten, masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta beserta pendatang yang ada di Yogyakarta mampu berinteraksi secara langsung melalui even ini. Sehingga diharapkan pula, hubungan antar masyarakat mampu terjalin seakin erat dibalik hiruk pikuk kehidupan Kota yang semakin banyak tuntutan.

Pada dasarnya kami melihat bahwa sekaten mampu membangkitkan gairah pariwisata Kota Yogyakarta sekaligus menjadi sarana hiburan serta edukasi yang mampu meningkatkan kepuasan bagi seluruh pengunjungnya, jadi tidak hanya wisatawan saja yang terhiur, akan tetapi warga asli Jogja, juga pasti sangat senang

Keputusan Pemerintah Kota Yogyakarta bersama jajaran Pemerintah Daerah dan bantuan Kraton Yogyakarta dalam menjaga dan melestarikan even Sekaten sangat diapresiasi oleh masyarakat Kota, karena Kota yang maju adalah kota yang bisa memuat masyarakatnya ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang ada dalam kotanya. Hal ini juga yang membangun Jogja untuk selalu memberikan ruang bagi para warganya untuk terus berpartisipasi sekaligus menjalankan roda perekonomian tanpa meluoakan tradisi.