Breaking News

Secercah Perjuangan Mencari Mukjizat Kesembuhan

  • admin
  • 21/12/2020
  • Comments Off on Secercah Perjuangan Mencari Mukjizat Kesembuhan

Aslan Lewis Wijaya yang lebih akrab disapa Lewis, seorang anak kelahiran 2 Juni 2012 dihadapkan pada sebuah penyakit berat di usianya yang baru menginjak delapan tahun. Hal ini tentu sangat mengejutkan keluarganya ketika anaknya yang sangat aktif harus mengalami penyakit yang menyebabkan Lewis bahkan kesulitan berbicara.

Melalui instagram @evlyn_chn, keseharian Lewis yang sedang berjuang dengan penyakitnya terekam  jelas dari hari ke hari. Penyakit yang diderita oleh Lewis yakni tumor batang otak atau DIPG (Diffuse Intrinsic Pontine Glioma).

Setelah Lewis didiagnosa pada bulan November 2020 setelah dilakukan MRI dan MRSI oleh dokter spesialis syaraf anak di Rumah Sakit Premiere Bintaro, Lewis sudah mulai menjalani pengobatan namun menurut seorang professor bedah syaraf di Indonesia, Lewis sudah tidak dapat diobati. Penyakit yang diderita Lewis sangat langka sehingga pengobatannya belum tersedia di Indonesia. Bahkan, hanya 10% dari total penderita DIPG yang dapat hidup sampai dua tahun setelah didiagnosa.

Mendengar hal tersebut, orang tua Lewis yakni Milka dan Rendy memutuskan untuk membawa Lewis pulang ke rumah agar bisa menghabiskan sisa waktunya dengan keluarga yang diperkirakan hanya tersisa beberapa minggu.

Di tengah keputusasaan, secercah cahayapun datang. “Pas lagi jalan pulang dari RS, ada dokter di Singapura yang menawarkan pengobatan buat Lewis. Dokter di Singapura mau nyoba biopsy dan radiotherapy Lewis. Walaupun kecil harapannya, namun selagi masih bisa berjuang, keluarga akan melakukannya”, tulis Evalyn selaku kakak sepupu dari Lewis.

Segera setelah itu, keluarga mencoba mencari dana dengan membuka donasi di kitabisa.com/bantulewisya untuk membantu biaya pengobatan yang terbilang mahal hingga mencapai dua milliar.

Cinta kasih yang membantu keluarga ini dapat bertahan di tengah badai yang melanda kehidupan anak tecintanya Lewis. Lewat kasih sayang dan cinta, orang tua Lewis mencoba memberikan yang terbaik untuk kesembuhan Lewis, baik melalui pengobatan dan perawatan khusus untuk penderita tumor batang otak dan juga melalui doa dan kasih.

Kepercayaan akan adanya mukjizat Tuhan untuk Lewis membuat mereka tak henti-hentinya untuk tetap yakin bahwa Lewis pasti akan sembuh dan tumbuh sehat seperti teman-temannya yang lain.

Sadar akan cinta kasih yang diterima begitu besar, Lewis memperlihatkan dampak dari cinta kasih yang tulus berkat kedua orang tuanya. Walaupun Lewis hanya bisa terbaring atau sesekali harus ditopang ketika berjalan, ia terus menunjukkan bahwa ia juga turus berusaha untuk kesembuhan dirinya. Walau kesulitan untuk berbicara, Lewis terus memancarkan kehangatan lewat senyum yang ia berikan. Rasanya, senyum Lewis adalah obat terampuh untuk keluarganya yah.

Perjuangan lain yang dilakukan untuk Lewis juga tidak hanya datang dari keluarga melainkan dari banyak orang yang mencintai Lewis. Dengan bantuan media sosial Instagram, Evalyn membagikan postingan Lewis yang sedang membutuhkan bantuan krusial berupa finansial. Pengobatan Lewis di Singapura yang harus secepat mungkin dilakukan dengan memakan biaya yang besar membuat keluarga akhirnya memutuskan untuk membuka donasi untuk Lewis.

“Instagram, do your magic” mungkin tepat untuk menggambarkan situasi ini. Postingan mengenai Lewis semakin banyak dilihat oleh banyak orang baik bahkan postingannya sampai ke selebgram. Tentu pengaruh yang besar dari selebgram dengan membagikan sebuah postingan sangat berdampak untuk keluarga. Masih banyak orang baik yang sayang sama Lewis, bahkan walaupun tidak mengenal secara pribadi dengan Lewis maupun keluarganya.

Masa pandemi Covid-19 menyebabkan sulitnya proses keberangkatan Lewis dan keluarga untuk menuju Singapura. Dibutuhkan beberapa surat dari pemerintah Singapura sebagai persyaratan agar mereka dapat masuk dan menjalani pengobatan secara intensif.

Dokumen yang dibutuhkan untuk masuk ke Singapura sudah diajukan sejak tanggal 9 Desember 2020 dan membutuhkan setidaknya tujuh sampai sepuluh hari kerja agar persetujuan masuk ke Singapura dapat dilakukan. Kabar baiknya, pada tanggal 16 Desember lalu, surat izin tersebut sudah keluar sehingga Lewis beserta keluarga dapat segera masuk ke Singapura untuk melakukan pengobatan.

“Selanjutnya, Lewis dan Mami Milka akan melakukan swab test dan Lewis akan melakukan rontgen paru-paru”, tulis Evalyn. Ia juga berharap, banyak doa dan dukungan yang mengalir untuk kesembuhan Lewis baik melalui doa maupun bantuan finansial.

Sebagai seorang penulis sekaligus orang yang pernah mengajar Lewis, walaupun hanya sekali dan hanya mendiktekan tugas sempoa, saya dapat melihat Lewis adalah anak yang pintar dan tentunya anak baik. Bahkan, belum lama ini, ketika Lewis mogok makan, mamanya bertanya “Bagaimana bisa sembuh kalau ga minum obat?” dan Lewis hanya menujuk ke atas yang artinya ada Tuhan yang dapat membantu kesembuhannya lewat mukjizat harapannya. Semoga sebelum menutup tahun 2020, ada kabar baik lagi dari Lewis mengenai kesembuhannya yang sangat dinantikan oleh setiap orang terutama keluarganya.

Oleh kelompok 10/JMM UAJY Kelas A 2020/2021

Michael Julius Figun (170906454)

Maria Grace Evanda (180906489)

Frederica Nancy Sjamsuardi (180906702)

Bertha Virginia Yosmar (180906719)

Salam!