Breaking News

Cara Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Menyiasati Sekolah Daring

  • admin
  • 21/12/2020
  • Comments Off on Cara Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Menyiasati Sekolah Daring

Oleh: Grace Paramitha – 180906496

CILACAP, (21/12/20) – Sekolah daring bukanlah hal yang mudah. Perlu sebuah persiapan yang matang agar siswa tetap dapat menerima materi dengan baik.

Bagi Pamungkas Febriana (25), seorang guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di SD N Cilacap 02, kegiatan belajar mengajar secara daring cukup sulit, namun juga menguntungkan.

Online ya susah susah gampanglah,” kata Febri. Hal yang menguntungkan adalah saat mengajar dari rumah, guru tidak hanya fokus mengajar dari pagi hingga siang hari, tetapi juga dapat diselingi dengan melakukan kegiatan lainnya.

Namun, di sisi lain, menjadi sulit karena guru tidak bisa mengajarkan banyak materi. Di saat sekolah secara tatap muka, apabila siswa belum jelas mengenai suatu materi, guru dapat menjelaskan ulang. Namun, hal tersebut tidak dapat dilakukan saat sekolah daring karena adanya keterbatasan waktu.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Febri memiliki cara agar siswa tidak bosan dan tetap semangat belajar dari rumah.

Pada mata pelajaran PJOK, Febri menyiasatinya dengan cara melakukan pembelajaran yang bervariasi. Pada minggu pertama, Febri akan memberikan materi kepada siswa, kemudian minggu ke dua ada kuis, minggu ke tiga menyampaikan materi melalui Zoom atau video call, lalu minggu ke empat akan diadakan ulangan. “Secara terus-terusan seperti itu,” kata Febri.

Di minggu pertama, penyampaian materi berupa video yang diambil dari Youtube. “Tinggal ambil, dishare ke anak, lalu anak suruh nulis apa yang didapet di video tersebut,” ungkap Febri. Selain melalui video di Youtube, siswa juga dapat membaca materi melalui LKS.

Febri mengatakan bahwa untuk memaksimalkan memberikan materi, penyampaian materi biasanya dilakukan melalui aplikasi Whatsapp. “Kalau online itu yang sering WA, lewat grup WA kelas,” ujar Febri. 

Di minggu ke dua, kuis biasanya dilakukan melalui mentimeter atau quizizz. Untuk kelas 4 sampai 6 SD, kuis berisi dua puluh soal dan untuk kelas 1 hingga 3 SD kuis hanya berisi sepuluh soal. “Pokoknya kalau kuis itu yang sering dinantikanlah sama anak-anak,” kata Febri. Hal tersebut karena menurut siswa, kuis yang diberikan sangatlah seru.

Di minggu ke tiga, biasanya akan dilakukan penyampaian materi melalui aplikasi Zoom atau video call melalui aplikasi Whatsapp. Ketika akan melakukan meeting melalui Zoom, Febri akan memberi tahu satu minggu sebelumnya kepada para siswa. “Biar mereka siap kuota, ga pergi-pergi,” ucap Febri.


Video call Febri dengan muridnya (Foto: Dok. Istimewa)

Pembelajaran melalui Zoom biasanya hanya dilakukan selama 20-30 menit, karena sekolah belum memiliki fasilitas Zoom yang berbayar. “Yang penting ada interaksi, ada komunikasi, biar ga terputus komunikasinya,” kata Febri.


Pembelajaran daring dengan menggunakan Zoom (Foto: Dok. Istimewa)

Saat sedang melakukan pertemuan melalui Zoom, ada siswa yang diam, ada yang aktif bertanya, dan ada yang malah bertanya mengenai kabar temannya. Jika suasana sudah mulai tidak kondusif, Febri akan berhenti menjelaskan materi dan menegur atau memberikan kesempatan siswanya untuk saling bertukar kabar.

“Pertama-tama kaya gitu tapi yang selanjutnya mereka udah tau, materi dulu abis itu say hello sama temannya gapapa,” kata Febri. Siswa juga tidak diwajibkan untuk open camera ketika melakukan Zoom, Febri merasa kasihan jika harus open camera, kuota serta baterai handphone akan cepat habis.

Ada juga kejadian menarik saat sedang melakukan Zoom, ada tetangga dari siswanya yang ikut bergabung dan ikut berbicara. “Ada yang ikut terus ngomomg endi endi gurune endi,” kata Febri. 

Di minggu ke empat, akan dilakukan ulangan melalui aplikasi Whatsapp. Febri akan mengetik soal ulangan di Microsoft Word kemudian mengubahnya menjadi bentuk gambar dan setelah itu baru dikirimkan kepada siswa melalui Whatsapp. 

“Paling banyak dua puluh soal nah anak itu tulis soal, jawab, soal, jawab di kertas,” ungkap Febri. Kemudian ulangan tersebut akan dikumpulkan keesokan harinya oleh ketua kelompok. Jadi, para siswa harus memberikan jawaban ulangan ke rumah ketua kelompok. Besoknya, ketua kelompok akan datang ke sekolah untuk mengumpulkan jawaban ulangan para siswa.

Ketua kelompok merupakan salah satu dari orang tua murid. “Misalnya si A jadi ketua kelompok di kelas, maka ibunya si A yang mengkoordinir satu kelas itu,” jelas Febri.

Selain dengan kuis dan ulangan, Febri juga memberikan tugas-tugas agar siswanya bisa mendapatkan nilai. Selengkapnya dapat dilihat di sini.

Febri mengatakan, kesulitan dari sekolah secara daring adalah belum semua siswanya memiliki teknologi yang mumpuni untuk mengikuti kegiatan sekolah daring. Di setiap kelas yang diajarnya, setidaknya ada 1-5 anak yang tidak memiliki handphone. “Tapi di setiap kelas pasti ada yang ga punya,” ujar Febri.

Bagi siswa yang tidak memiliki handphone, selama dua minggu sekali Febri akan datang ke rumah siswa tersebut untuk memberi materi, di minggu terakhir, Febri akan memberikan materi sekaligus soal ulangan. 

Febri juga selalu memerhatikan kehadiran muridnya. Jika selama dua minggu berturut-turut ada siswa yang tidak mengikuti pelajaran, maka ia akan langsung menghubunginya atau mengunjungi rumahnya. “Kita guru juga was-was, ini kenapa,” kata Febri. Febri juga mengatakan jangan sampai muridnya tidak mengikuti pelajaran karena pergi jalan-jalan.

Sejauh ini, proses kegiatan belajar mengajar secara daring bisa berjalan dengan lancar, meskipun terdapat beberapa kendala, tetapi hanya sebagian kecil. Febri mengatakan biasanya siswanya akan mengeluh mengenai handphonenya yang tidak mendukung, tidak bisa memasukkan email, tidak bisa join ke Zoom, hingga tidak bisa mendengar suara.

Jika hal seperti itu terjadi, Febri akan membantu menjelaskan caranya. “Ada tutorialnya aku kasih, tapi kalau misalnya ada yang tetep ga bisa aku telfon,” ungkap Febri.

Seorang guru perlu berkorban banyak hal agar muridnya tetap dapat mendapatkan materi dengan baik saat sekolah daring. Sekolah secara tatap muka di sekolah lebih memudahkan proses belajar mengajar.

Bagi salah satu siswa kelas 3 SD bernama Cinta, sekolah secara langsung lebih menyenangkan ketimbang sekolah secara daring. “Bisa belajar sama temen-temen,” ujar Cinta. Charis, siswa kelas 5 SD juga berpendapat sama. Namun, hal yang membuat Charis merindukan sekolah secara tatap muka adalah karena ia dapat membeli jajan saat di sekolah.

Selain itu, sekolah secara daring juga membuat Osta (40), salah satu orang tua murid kesulitan. Osta dan suaminya merupakan pekerja kantoran sehingga mereka tidak bisa mendampingi dan membimbing anak-anaknya sekolah di rumah. 

Salah satu cara yang dilakukan Osta agar anak-anaknya dapat mengikuti kegiatan sekolah daring secara maksimal adalah dengan dititipkan di tempat les. “Dititipkan di tempat les supaya tugasnya bisa selesai,” ujar Osta. Setiap harinya, dari Senin sampai Sabtu, anaknya akan dititipkan di tempat les dari jam 09.00 WIB hingga 13.00 WIB.

Selain itu, sekolah daring juga menyebabkan pengeluarannya menjadi bertambah. Osta mengatakan, sebenarnya uang yang dihabiskan untuk membeli kuota tidak terlalu banyak, namun, Osta dan suaminya perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar les anak-anak mereka. Osta juga merasa kerepotan ketika pulang kerja, ia masih harus mengecek tugas anak-anak atau membantu membuat tugas anak-anak hingga malam hari. 

Curahan hati seorang guru dan orang tua murid mengenai sekolah daring dapat didengarkan di sini.

Semoga Covid-19 segera berlalu agar sekolah secara tatap muka dapat segera dilaksanakan dan para siswa dapat kembali belajar dengan maksimal.