Breaking News

Budidaya Sayuran Hidroponik ditengah Pandemi

Surakarta (17/12/2020). Bayam Brazil, Kale dan Pakcoi berjejer rapi tertata disamping rumah. Hijau rapi dan sedap dipandang mata.

Semenjak Pandemi dimulai banyak masyarakat yang mulai gemar untuk berkebun di rumah. Berkebun menjadi salah satu kegiatan yang gemar dilakukan saat sulit berpergian. Salah satu metode berkebun yang bisa digunakan adalah urban farming hidroponik. Seperti Fransiska Tri Setya Rini lakukan dirumahnya.

Ika dengan Instalasi Hidroponik miliknya. Dokumen Pribadi

Sudah tujuh bulan Fransiska Tri Setya Rini menjadi penggiat urban farming hidroponik. Awalnya hanya untuk bertahan hidup dari pandemi, kini menjadi lahan rejeki. Ibu kelahiran Mbareng Kudus 45 tahun silam itu memang sudah gemar membudidayakan tanaman sejak kecil.

“Sejak saya kecil saya sudah suka menanam.” Ujar ibu yang biasa dipanggil Ika itu, saat ditemui pada tanggal 15 Desember yang lalu.

Sejak awal April yang lalu, Ika mencoba mengembangkan sistem urban farming hidroponik dirumahnya yang berlokasi di Kerten Surakarta. Sistem itu terbuat dari barang-barang bekas yang dia temukan. Ika kemudian menanam berbagai jenis sayuran. Tujuan awalnya hanya untuk bertahan hidup karena terjadinya pandemi.

“Pendapatan saya berkurang dan pengeluaran saya tetap, jadi saya pikir menanam sayuran bisa menekan pengeluaran saya.” Ujar Perempuan yang bekerja sebagai Sekretariat Gereja itu.

Dari akun Youtube Yudha Setya Nugraha

Saat ditanya mengapa memutuskan menanam dengan sistem hidroponik. Ika menjawab bahwa sistem hidroponik tidak memakan banyak tempat dan hemat air. Sayuran yang diproduksi dalam instalasi hidroponik juga lebih cepat tumbuh dan subur.

“Hidroponik juga hemat tempat jadi mudah untuk di instalasi dan dikembangkan” Ujarnya.

Dengan menggunakan teknik hidroponik, Ika dapat memanfaatkan ruang sempit dirumahnya untuk berproduktivitas lebih. Kini Instalasi miliknya sudah berjumlah 70 lubang dan menghasilkan sayur-sayuran segar.

“Seminggu sekali saya panen, ada yang saya sisihkan untuk dimakan dan sekarang ada yang saya sisihkan juga sebagian untuk dijual.” Ujarnya.

Ika pun menceritakan tananam yang paling gemar dia budidayakan adalah bayam Brazil. Bayam Brazil tumbuh dengan cepat dan mudah. Jika tananam lain dipanen seminggu sekali maka Ika dapat memanen bayam Brazil setiap hari. Karena kemudahan ini Ika dapat mengembangkan bayam Brazil tidak hanya dengan hidroponik. Melainkan juga dapat dikembangkan dengan metode penanam biasa. Kini persediaan bayam Brazil yang dia miliki ada sebanyak 50 pot lebih.

Bayam Brazil. Dokumen Pribadi.

“Bayam Brazil sangat mudah ditanam dan dikembangkan, tancapkan saja batangnya ke tanah atau instalasi hidroponik dia akan langsung tumbuh menjadi tananam baru.” Ujarnya.

Ika sendiri mengaku, dirinya menjadikan bayam Brazil sebagai makanan sehari-harinya selama pandemi. Selain karena memiliki banyak gizi juga memiliki nutrisi yang baik untuk ketahanan tubuh. Kini setelah tujuh bulan menanam, Ika sudah mulai merasakan sedikit hasilnya. Dirinya sekarang bisa menjual sedikit dari hasil tanamnya sebagai tambahan penghasilan.

“Saya jual dalam bentuk pot, satu pot bayam Brazil dan Kale saya jual Rp.10.000.” Ujarnya.

Tidak hanya menjual dalam bentuk pot atau mentah. Ika Kemudian juga mengalihgunakan hasil tanamnya untuk dijual dalam bentuk sayuran matang.

“Saya juga sering dapat pesanan untuk sayuran matang, biasanya saya jual satu paket dengan lauk. Karena bahannya berasal dari kebun jadi untungnya bisa lebih banyak” Ujarnya.

Pandemi Covid-19 membuat semua orang kesulitan termasuk Ika. Namun kini dirinya bisa sedikit bernafas dikarenakan hasil tanamnya. Ika pun berharap pandemi segera usai sehingga dirinya bisa mengembangkan kebun Hidroponiknya dengan lebih baik lagi.

“Mudah-mudahan pandemi cepat berakhir dan saya bisa mengembangkan hidroponik ini lebih jauh.” Ujar Ika.

Dokumen Pribadi.

Yudha Setya Nugraha / 180906506

UAS JMM Pribadi