Breaking News

Menengok Social Media Journalism dalam “Asumsi”

  • admin
  • 25/10/2020
  • Comments Off on Menengok Social Media Journalism dalam “Asumsi”

Coba lihatlah, akar konsep dari  jurnalisme merujuk pada aktivitas memberikan informasi kepada publik supaya bisa memutuskan pilihan yang berdampak baik bagi kelangsungan hidupnya (Kovanch dan Rostentiel dalam Unilubis, 2012). Kualitas informasi yang diberikan harus menyajikan kebenaran. Karena apa? Kualitas baik buruknya kehidupan publik bergantung pada kualitas informasi yang diberikan. Jurnalisme bukan sekadar perihal melaporkan saja, namun menyelami, dan mencari jawaban dari informasi tersebut. Tentunya, untuk mencapai jawaban tersebut jurnalis mempunyai prinsip 5W+1H sebagai kunci untuk menemukan jawaban. Ditilik dari definisi konsep secara umum dari participatory journalism yaitu ketika masyarakat umum yang bukan berprofesi jurnalis namun ikut berperan dalam melaporkan sebuah informasi (Uni Lubis, 2011).

Social Media Journalism

Dengan memanfaatkan media sosial, berbagai informasi dapat dibuat oleh masyarakat yang bukan berprofesi sebagai jurnalis. Ternyata, manfaat dari media sosial juga membantu para profesi jurnalis dalam mempersingkat waktu dalam pencarian informasi, karena kecepatan dalam memberitakan suatu informasi juga menjadi perhatian penting bagi publik. Adanya berbagai informasi yang ditulis dalam media sosial dapat membantu para jurnalis melengkapi data serta informasi-informasi yang dibutuhkan oleh profesi jurnalis. Hal ini akan dilakukan ketika ada pihak-pihak yang bersangkutan menghalangi para jurnalis melakukan liputan pemberitaan (Unilubis, 2012).

Namun, tentunya dengan menggunakan media sosial kedalaman serta akurasi data kurang memunculkan adanya disiplin dari verifikasi. Jadi, media sosial bukan disebut sebagai jurnalisme karena tidak ada verifikasi terkait  informasi dan tidak selalu mengedepankan prinsip 5W+1H.

Hadirnya media sosial sebagai ruang baru bagi para jurnalis memberikan informasi sehingga media sosial memunculkan adanya nilai-nilai baru yang terwujud dalam jurnalisme yang dikategorikan sebagai media interaktif. Adapun karakteristik jurnalisme media sosial meliputi, pertama, transparansi, informasi yang disajikan berdasarkan fakta yang sudah lulus tahap verifikasi atau uji informasi para jurnalis. Kedua, partisipan, adanya keikutsertaan dari penonton untuk berinteraksi ketika ada pemberitaan di media sosial. Karakteristik ini mengutamakan komunikasi dua arah. Ketiga, anonimitas, adanya kebebasan dalam membuat identitas di dalam media sosial, namun karakteristik ini harus dihindari dalam jurnalisme media sosial, karena jika sumber tidak diketahui maka informasi tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Keempat, sharing, adanya keterbukaan dari penonton untuk berbagi informasi yang diberitakan secara langsung kepada masyarakat luas. Kelima, immediacy mengacu pada informasi yang disajikan merupakan kejadian yang sedang terjadi, aktual, dan terpercaya (Hamna,2017, h. 119) .

Tentang Asumsi

Lambang dari Asumsi. Sumber gambar:https://beta.asumsi.co

Dilansir dari website resmi asumsi.co, Asumsi merupakan sebuah media yang didirikan pada tahun 2015 oleh Pangeran Siahaan dan Iman Sjafei. Pada awal berdirinya, Asumsi berbentuk channel Youtube, namun lama-kelamaan Asumsi berkembang menjadi media online serta aktif memberikan informasi-informasi melalui media sosial yang dimilikinya. Asumsi berfokus pada pembahasan mengenai politik, current affairs, dan budaya pop. 

Asumsi dapat menjadi salah satu sumber informasi mengenai politik dan sosial, terutama bagi generasi digital native. Asumsi ingin memancing serta mengajak para anak muda untuk berdiskusi dengan seru, sehat, dan juga objektif. Asumsi percaya bahwa media memiliki peran penting yaitu sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat. 

Isu yang Dihadirkan

Paus mendukung pasangan LGBT untuk dapat berkeluarga. Dalam artikel ini baik di versi media sosial Instagram @asumsico maupun full textnya di website milik Asumsi yaitu asumsi.co, sama-sama mengutip ucapan Paus Fransiskus dari film “Francesco” yang berbunyi “Homoseksual memiliki hak untuk berkeluarga”. Artikel tersebut dirilis oleh Asumsi dalam bentuk berita singkat di media sosial dan  full text artikel di website utama mereka. Artikel ini berisikan pernyataan Paus Fransiskus yang mendukung pasangan LGBT atau spesifik ke homoseksual untuk dapat berkeluarga dan diperlakukan dengan layak.

Alasan kami memilih artikel ini karena adanya beberapa hal, pertama adalah isu LGBT, isu ini masih cukup hangat dan penting untuk dibahas karena masih banyaknya pandangan pro dan kontra yang menyelimuti isu ini. Kedua adalah pernyataan Paus Fransiskus yang mendukung pasangan LGBT dalam hal ini spesifik kepada pasangan gay untuk berhak dan dapat hidup berkeluarga bersama-sama. Ketiga, pernyataan ini jelas berbanding terbalik dengan ajaran atau anjuran yang terdapat di Alkitab agama Katolik yang menjunjung tinggi kodrat. Namun, yang bisa kami lihat adalah Paus mencoba melihat isu ini dari parafrasa yang berbeda dengan yang rohanian lain lihat. Paus melihat bahwa mereka tetap bagian dari ciptaan Allah yang kaya dan tidak ada satupun manusia yang boleh diperlakukan dengan semena-mena.

Berita yang dishare dalam media sosial biasanya dilandasi oleh beberapa karakteristik yakni seperti interactive, personal yang menargetkan engagement dari para konsumen informasi sehingga dapat lebih partisipatoris terhadap informasi-informasi yang dirilis oleh media tersebut. Dalam hal ini, Asumsi menerapkan strategi penyebaran informasi yang cukup unik dan baik, mereka sepertinya menyadari bahwa pembaca media sosial terutama Instagram cenderung tidak mempunyai waktu untuk membaca berita yang panjang di pagi hari atau waktu senggang mereka. 

Tangkapan layar berita Asumsi di Website.

Seperti halnya jurnalis di media digital, media yang mempublikasi informasi mereka di media sosial harus melakukan beberapa penyesuaian agar konten mereka menarik untuk dibaca. Salah satunya adalah membedakan bagaimana mereka menulis untuk media sosial dan website mereka. Asumsi mengemas tulisan mereka yang terdapat di website lebih detail daripada yang mereka susun di media sosial Instagram, dalam tulisan website kedetilan dan akuratnya data harus benar-benar diperhatikan dengan baik dan gambar dalam tulisan yang terdapat di website hanya sebagai pemanis dan penjelas informasi saja.

Dalam tulisan Asumsi mengenai pernyataan Paus Fransiskus ini mereka menerapkan hal tersebut. Bisa kita lihat jika postingan artikel mereka yang terdapat di website memiliki teks yang lebih panjang dan mendetail, gambar hanya digunakan sebagai pelengkap saja dan anehnya di website mereka ini tidak disediakan tempat bagi para pembaca agar dapat lebih interaktif dengan medianya, terbukti dengan tidak adanya kolom komentar.

Postingan Asumsi di Instagram. Terlihat bahwa visual lebih ditonjolkan. Sumber Gambar: Tangkapan Layar Pribadi

Kemudian jika melihat artikel yang dirilis di media sosial Instagram milik Asumsi, bisa kita lihat bahwa Asumsi menggunakan visual sebagai pemancing pembaca dengan menyelipkan pernyataan Paus di gambarnya yang dapat langsung dilihat oleh orang-orang. Sementara artikel teks yang dihadirkan lewat caption hanya berbentuk paragraf pendek saja. 

Kesimpulan

Jadi, seorang jurnalis harus bisa menyajikan informasi yang benar dan berkualitas kepada khalayak, baik pada saat menyampaikan informasi melalui website resmi milik media maupun pada saat menyampaikan informasi melalui media sosial. Hal tersebut karena baik buruknya kualitas suatu informasi dapat berpengaruh kepada khalayak.

Hadirnya media sosial, dapat membantu jurnalis untuk memberitakan suatu informasi dengan cepat dan real time, karena publik menginginkan kecepatan dalam pemberian informasi. Terdapat perbedaan ketika mempublikasikan suatu informasi di website dengan di media sosial. Hal itu juga yang dilakukan oleh Asumsi.

Pada website milik Asumsi yaitu asumsi.co, Asumsi mengemas informasi dengan detail dan teks yang panjang, gambar hanya sebagai pelengkap. Sedangkan pada media sosial Instagram yang dimiliki oleh Asumsi, artikel yang diunggah lebih menonjolkan visual berupa gambar, teks hanya sebagai pelengkap informasi. 

Daftar Pustaka 

Hamna, D. M. (2017). Eksistensi Jurnalisme di Era Media Sosial . Jurnalisa Vol. 03/ Nomor 1, 106-120.

Unilubis. (2011, November 4). Twitter : Antara Jurnalisme, Saluran Berita dan Ekspresi Personal . Retrieved Oktober 24, 2020, diakses dari Uni Lubis.com: http://unilubis.com/2011/11/04/twitter-antara-jurnalisme-saluran-berita-dan-ekspresi-personal-2/

Unilubis. (2012, Februari 21). Interaksi Jurnalis dan Media Sosial . Retrieved Oktober 24, 2020 , diakses dari Uni Lubis.com : http://unilubis.com/2012/02/21/interaksi-jurnalis-dan-media-sosial/

Website Asumsi.co: https://asumsi.co/ 


Salam hangat kami dari Kelompok 7 JMM Kelas A 2020/2021

Grace Paramitha 180906496

Yudha Setya Nugraha 180906506

Maria Fransiska Ayu Diva Yulita 180906652

Mardyaning Christ Cahyarani 180906671