Sega Mubeng Memperat Keberagaman


Romo Maharsono SJ mengawali kegiatan Sega Mubeng (foto:Mathilda)

Gereja Santo Antonius Kotabaru memiliki salah satu kegiatan rutin bernama Sega Mubeng. Kegiatan ini diadakan setiap sabtu pukul 05.15 pagi yang diikuti oleh orang-orang dari agama yang berbeda. 

Sega mubeng merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru Yogyakarta. Penggagas dari kegiatan Sega Mubeng ini adalah Romo Macarius Maharsono Probho, SJ (58). Romo Mahar mengatakan pada awalnya kegiatan ini diadakan pada malam hari agar masyarakat yang tidak mampu maupun yang tidur di pinggir jalan dapat tidur tanpa merasakan kelaparan. 

Namun seiring dengan berjalan waktu, kegiatan Sega Mubeng dilaksanakan pada pagi hari. Kegiatan ini diadakan setiap sabtu pagi pukul 05.15 dan berkumpul di halaman pasturan gereja. Kegiatan ini sudah berjalan kurang lebih sejak tahun 2017.

Kegiatan Sega Mubeng ini merupakan kegiatan membagikan nasi bungkus beserta minum secara gratis kepada orang-orang terpinggirkan seperti gelandangan, pemulung, tukang becak, tukang sapu, pengemis, dan orang-orang yang tidak memiliki penghasilan yang tetap atau penghasilannya kecil dan tidak mampu.  


Relawan mengambil tas berisi nasi bungkus untuk dibagikan. (foto:Mathilda)

Pembagian nasi bungkus ini dibagi per kloter dan rute yang masing-masing berbeda, sehingga orang-orang yang akan membagikan nasi bungkus tersebut dapat memilih rute mana yang dipilih untuk membagikan nasi bungkus tersebut. Biasanya setiap rute membawa 15 bungkus nasi, namun kalau rute perjalanan yang dibagikan cukup panjang maka nasi yang dibawa cukup banyak hingga 45 bungkus.

 Rute-rute jalan yang digunakan untuk membagikan sega mubeng adalah daerah Kotabaru, Malioboro, Bumijo, Gejayan, Lembah UGM, daerah UKDW, Jalan Magelang, Jl. C. Simanjuntak, Taman Siswa, Pasar Bantul, daerah Hartono Mall dan masih banyak lagi. 

Sega Mubeng ini membagikan 600 bungkus setiap kegiatan tersebut dilaksanakan. Nasi bungkus ini dibuat oleh ibu-ibu umat gereja Kotabaru yang dibagi beberapa tempat agar lebih cepat dibagikan dan membuat porsinya tidak terlalu banyak. 

Kegiatan Sega mubeng ini dapat dilaksanakan dari sumbangan-sumbangan umat yang membantu baik berupa uang maupun bahan untuk membuat nasi bungkus sehingga sudah tidak lagi menggunakan anggaran dari gereja. 

Romo Mahar mengatakan awalnya kegiatan ini menggunakan dana pribadi milik Romo Mahar, namun setelah itu Gereja memberikan anggaran dana untuk menjalankan kegiatan Sega Mubeng ini. 

Orang-orang yang membagikan Sega Mubeng tidak hanya dari pengurusnya saja, melainkan dari orang tua, siswa SMA, mahasiswa, Orang Muda Katolik (OMK), dan siapapun boleh ikut ambil bagian dalam membagikan nasi bungkus ini kepada masyarakat miskin. 


Keberagaman antar relawan membentuk persaudaraan. (foto: Instagram.com)

“Kegiatan Sega Mubeng ini siapapun boleh ikut, waktu itu ada juga dari beberapa mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) ikut membagikan Sega Mubeng ini” ujar Romo Mahar pada sabtu (7/12). Selain itu umat HKBP juga ingin bergabung mengikuti kegiatan Sega Mubeng. Salah satu orang yang beragama muslim serta dosen-dosen dari beberapa universitas juga turut serta mengikuti kegiatan Sega Mubeng ini.


        Relawan membagikan nasi bungkus ke tukang becak. (foto:Mathilda)

Harapan dari dibentuknya Sega Mubeng ini agar rejeki kasih yang kecil ini menjadi berkat bagi mereka dan berharap agar sebungkus nasi ini berasal dari cinta kasih dan para penderma bisa menjadi dukungan kecil untuk mereka. 

Tujuan dari kegiatan Sega Mubeng ini agar orang-orang yang berpenghasilan kecil masih mendapatkan perhatian dari orang-orang yang kebutuhannya lebih cukup dari mereka, walaupun hanya dengan nasi bungkus dapat membantu masyarakat kecil dapat memberikan rasa persaudaraan dan rasa saling berbagi antar sesama tanpa harus membeda-bedakan.

(Mathilda Gian -170906204)