Salahkah Keluar dari Seminari?

Fenomena keluar dari seminari merupakan hal yang akan dijumpai di dalam pendidikan calon imam. Hal ini bukan sebuah kekeliruan karena ada alasan-alasan yang memengaruhi keputusan tersebut.

Panggilan dalam Gereja Katolik Roma merupakan suatu hal yang bisa dialami oleh siapa saja. Pada dasarnya, semua orang dipanggil untuk melayani Tuhan, namun cara menanggapinya berbeda. Ada yang menjalani non-selibat atau awam ada pula yang hidup selibat atau menjadi rohaniawan.

Imam merupakan bentuk panggilan selibat yang jika diperhatikan oleh umat memerlukan komitmen dan ketulusan untuk melayani.

Proses panggilan yang dialami tiap individu berbeda. Bahkan, keputusan seseorang untuk masuk seminari juga beragam. Masing-masing memiliki alasan dan keyakinan mengapa memilih seminari sebagai tempat pendidikan.

Di dalam seminari, cara masing-masing individu untuk mengolah panggilan juga beragam. Keberagaman ini yang juga memberi pilihan bagi seminaris yang pada suatu titik tertentu memutuskan mundur dari pendidikan calon imam.

Panggilan sebagai urusan pribadi merupakan hal yang tersebut dialami oleh orang-orang yang pernah mengalami pendidikan di seminari. Kami menemui tiga mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di seminari. Ketiga mahasiswa tersebut sepakat bahwa urusan panggilan merupakan urusan pribadi karena cara dipanggil hingga menanggapi panggilan untuk menjadi calon imam tidak dapat disamakan kepada semua individu  Pilihan-pilihan akan bermunculan, mulai memutuskan untuk masuk seminari, melanjutkan jenjang bahkan ketika memutuskan untuk lanjut atau tidak.

Seseorang yang memutuskan untuk keluar dari seminari dan tidak melanjutkan pendidikan calon imam telah melalui proses pemikiran yang matang. Hal ini merupakan hasil dari permenungan dan refleksi yang telah dilakukan dalam suatu periode tertentu. Dikatakan tertentu karena masing-masing individu mengalami ‘pergulatan’ yang berbeda-beda. Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh ketiga narasumber.

Pengalaman memilih keluar

Yohanes Maharso, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengungkapkan bahwa keputusan untuk melanjutkan pendidikan di luar seminari merupakan hasil pengalaman dan renungan yang ia alami selama empat tahun di seminari menengah.

Hal senada juga dirasakan oleh Yohanes Bernevo dan Laurensius Yufreanto. Pilihan mereka untuk tidak melanjutkan pendidikan calon imam didasari dari apa yang mereka rasakan dan alami di dalam seminari. Kedua mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini mengungkapkan bahwa motivasi memberi warna dalam kehidupan di seminari. Motivasi tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau dari awal ndak niat, jalaninnya akan berat.” Ujar Bernevo. Mereka berdua menganggap bahwa tujuan mereka untuk masuk ke seminari belum cukup kuat sebagai pijakan dalam menghayati panggilan.

Ketiga mantan seminari ini memiliki alasan yang berbeda yang menyebabkan mereka akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di luar seminari. Mahar beralasan bahwa ia akhirnya kuliah karena mengikuti saran yang diberikan oleh seorang pastor. Sedangkan Bernevo yang pernah menempuh pendidikan di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan memilih keluar karena memang dari awal ia tidak terlalu berminat menjadi imam.

Lain lagi dengan Yufreanto. Ia yang pernah merasakan pendidikan di Girisonta selama setahun merasa bahwa motivasi yang ia miliki untuk menjadi imam rupanya kurang kuat. “Mungkin karena cuma gengsi, jadi akhirnya merasa ga cocok.” Ujarnya.

Hal yang wajar

Bagi mereka bertiga, wajar jika di tengah pendidikan seseorang meninggalkan panggilannya sebagai imam. Hal tersebut juga diiyakan oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr.. Ia menambahkan bahwa seminari bukan hanya tempat mendidik calon imam, namun juga rasul di tengah masyarakat. “Jadi kalau keluar seminari, diharapkan tetap berkarya (dalam gereja) sebagai awam.” Ujar Romo Tri.

Romo Robertus Tri Widodo, Pr. (Foto: dokpri)

Ia juga menambahkan bahwa ada beberapa pengalaman yang ia dengar mengenai pribadi seseorang yang lebih baik setelah meninggalkan panggilannya, bahkan setelah melepas jabatan imamatnya.

Menurut Mahar, keluar dari seminari tidak menjadi masalah yang besar. Baginya, keluar dari kehidupan seminari merupakan cara terbaik bagi seseorang untuk menemukan tantangan. Ia yang sebenarnya masih ingin melanjutkan pendidikan calon imam di kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) mensyukuri atas apa yang ia alami selama enam bulan ini. Padahal, pada awalnya ia sempat merasa kurang yakin dengan pilihannya untuk tidak melanjutkan pendidikan calon imam.

Setelah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, ia memiliki pandangan bahwa pengalaman di luar seminari justru bisa menjadi bekal untuk tahap selanjutnya. “Semoga bisa mengasah dan membantu untuk menentukan pilihan ke depannya.” Ujarnya.

Bernevo dan Yufreanto mensyukuri pengalaman yang diperoleh di seminari. Meskipun pada akhirnya kedua mahasiswa ini memilih untuk keluar dari seminari, namun mereka merasakan beberapa pengalaman yang membuat mereka bersyukur. “Kebersamaannya.” Ujar mereka berdua.

Selain itu, pengalaman retret penyembuhan luka batin yang mereka terima di seminari menjadi bekal yang berharga bagi mereka. Tidak lupa proses refleksi yang rutin mereka lakukan selama di seminari masih mereka lakukan sebagai cara untuk mengatasi kegelisahan yang mereka hadapi.

Bukan sebuah kesalahan

Dengan meninggalkan panggilan bukan berarti orang tersebut bermasalah. Hal ini merupakan salah satu pilihan yang dihadapi manusia. Keempat narasumber menganggap bahwa tidak melanjutkan panggilan merupakan hal yang manusiawi. Ini perlu diketahui umat agar tidak terjadi persepsi negatif bagi mereka yang meninggalkan panggilan. Penerimaan negatif tersebut pernah dialami oleh Mahar. “Tiga bulan pertama sempat ada semacam stigma dari kerabat dan beberapa kenalan. Tapi lama-lama berkurang.” Ujarnya.

Mahar secara pribadi tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena baginya, ia telah mengambil sebuah keputusan bagi dirinya sendiri secara merdeka. Bernevo dan Yufreanto juga tidak terlalu mempedulikan pandangan orang lain tentang keputusan mereka. “Yang penting orang tua tahu dan bisa menerima walaupun pasti ada rasa kecewa.” Ujar mereka berdua.

Menurut Romo Tri, pendidikan calon imam dapat menjadi sarana mendewasakan diri. Perutusan di tengah umat dan lingkungan sebagai awam dapat dilakukan oleh mereka yang memilih untuk meninggalkan seminari. Pernyataan tersebut dapat dilihat di ketiga narasumber yang kami temui. Di jenjang perkuliahan, mereka aktif dalam kegiatan non-akademik. Mereka bertiga menjadi contoh bagaimana pesan yang disampaikan oleh Romo Tri untuk berkarya di lingkungan sebagai awam dengan cara masing-masing.

Sebagai umat Katolik, kita perlu mengetahui fenomena ini dan perlu memandangnya secara baik. Selain sebagai bentuk pilihan pribadi dalam menanggapi panggilan, apa yang dikatakan Romo Tri terkait perutusan sebagai awam merupakan sisi baik yang juga perlu dilihat umat. Mereka yang memutuskan untuk keluar dari seminari bisa menjadi solusi dalam membantu tugas-tugas gereja di level umat. Pengetahuan lebih tentang agama Katolik menjadi nilai tambah dalam mengemban tugas kerasulan awam, seperti yang diungkapkan oleh Romo Tri.

Albertus Sindoro-170906418