Asrama Samirono, Ajarkan Toleransi Lewat Kegiatan.

Jalan masuk Asrama Samirono, rumah bagi murid perantau SMA Stella Duce 1. (dok/ayu)

Yogyakarta terkenal sebagai kota pelajar, banyak Universitas dan Perguruan Tinggi ternama bertempat di kota ini. Tidak hanya bagi mahasiswa, kota inipun menjadi salah satu tempat perantauan bagi anak-anak SMA. Salah satu sekolah yang memiliki beragam murid dengan latar belakang dan asal daerah yang berbeda adalah SMA Stella Duce 1 atau sering disebut SMA Stece. Sekolah Menengah Atas khusus putri ini memiliki kurang lebih 800 murid dari seluruh angkatan yang tersebar asal dan latar belakangnya. Tidak hanya orang Yogyakarta dan Jawa, tetapi murid SMA Stece juga datang dari berbagai kota dan pulau seperti Kalimantan, Papua, Sumatera, hingga Nusa Tenggara.

Asrama bagi perantau

Untuk memudahkan murid yang berasal dari luar Yogyakarta, SMA Stella Duce 1 memiliki dua asrama putri, Asrama Samirono dan Asrama Supadi. Sesuai namanya, Asrama Supadi terletak di Jalan Supadi No.5 Kotabaru dan Asrama Samirono terletak di Jl. Samirono DP 01 No. 308, Caturtunggal. Berada dibawah yayasan katolik, kedua asrama ini dikepalai oleh seorang Suster, sama seperti SMA-nya. Di antara kedua asrama itu, Asrama Samirono memiliki jumlah penghuni yang paling banyak. Menampung lebih dari 100 anak, Samirono atau yang sering disebut anak-anak Samihome menampung anak-anak dengan asal daerah yang sangat beragam. Kurang lebih 40% penghuni asrama sendiri berasal dari Indonesia bagian timur.

“Iya, kak. Jadi tiap angkatan itu minimal pasti ada 10 orang dari Papua.” ujar Nata salah satu penghuni asrama Samirono. Nata dan Iik merupakan penghuni asrama Samirono yang sama-sama berasal dari Bengkulu.

Wajib ikuti kegiatan rohani asrama

Penghuni asrama sedang mempersiapkan misa mingguan di Aula Asrama.

Sebagai asrama yang bernaung dibawah nilai-nilai ajaran Katolik, Asrama Samirono rutin melaksanakan kegiatan rohani Katolik seperti misa mingguan, doa siang, dan rekoleksi. Kegiatan rohani dilaksanakan secara Katolik dan wajib diikuti oleh seluruh penghuni Asrama.

Meskipun memiliki keyakinan yang berbeda, Veli tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang dijalankan oleh asrama dan sekolah. Veli sendiri merupakan salah satu dari sedikit orang yang beragama Budha di Asrama Samirono. Hak Veli dan teman-temannya untuk menjalankan ibadah sendiri tetap diberikan oleh pengurus Asrama Samirono. “Jadi kalau kita mau ke Vihara gitu, dibolehin, biasanya ada aku, adik kelas satu, sama kakak kelasku juga Budha. Itu kita boleh-boleh aja” tutur Veli saat ditemui di Asrama Samirono, Senin (09/12).

Mendekatkan melalui kegiatan bersama

Majalah dinding yang terpasang di Asrama. Foto-foto yang ada dalam mading tersebut merupakan dokumentasi salah satu kegiatan penghuni asrama Samirono.

Perbedaan latar belakang dan asal tentu membawa pengaruh terhadap perilaku seseorang dalam lingkungan barunya. Demi mendekatkan anak-anak, diadakan masa orientasi asrama. Layaknya masa orientasi di sekolah, para penghuni asrama akan melakukan kegiatan bersama-sama satu sama lain sesama teman asrama seangkatan. Selain dengan teman seangkatan, mereka juga berkenalan dengan kakak-kakak asrama dan pengurus asrama.

Hidup dalam perbedaan

Dalam satu kamar asrama, akan ada empat kasur disediakan untuk empat anak. Unit dan penghuninya akan selalu diundi setiap tahun supaya setiap anak mendapatkan kesempatan untuk mengenal teman asrama lain juga tidak jenuh dengan kamarnya. “Kalau aku, sekamar sama orang Jakarta dan Papua” cerita Veli.

Tinggal bersama sedemikian banyak orang, tentu akan mengalami benturan dan konflik. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, baik Nata, Iik, maupun Veli merasakan hal yang sama. Ketiga penghuni asrama tersebut merasa bahwa latar belakang atau identitas kelompok bukan hal yang menjadi masalah dalam dinamika penghuni asrama. Konflik yang sering muncul dalam asrama lebih sering disebabkan karena masalah antar-pribadi dan cara masing-masing anak dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal tersebut disetujui oleh salah satu alumni Asrama Samirono, Katarina Christine atau yang biasa dipanggil Ciwa. “Namanya juga adaptasi ya, terus tau sendirilah anak SMA kayak gimana” jelas Ciwa tentang pengalamannya menjadi penghuni asrama Samirono.

Latar belakang bukan pengaruh

Senada dengan pengakuan Nata, Iik, Veli, dan Ciwa, Suster Bibiana (Kepala  Asrama Samirono) juga merasa bahwa konflik yang terjadi dalam asrama lebih ke masalah internal pribadi masing-masing. Perbedaan atau benturan mencolok terlihat pada anak-anak yang berasal dari kota besar dengan anak yang berasal dari kota kecil.

Pada akhirnya, meskipun berasal dari etnis dan agama yang berbeda, penghuni Asrama Samirono dapat hidup dalam damai. Konflik dilihat sebagai salah satu proses dalam hidup bersama manusia lainnya. Kebersamaan mereka dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan asrama yang sering mereka lakukan scara rutin, seperti mengadakan misa tiap minggu yang dipimpin oleh anak-anak. Retret juga dilakukan untuk memberikan pendampingan tambahan kepada anak-anak.