Masjid Baitul Makmur : Rumah Ibadah Inklusif Ramah Difabel

  • admin
  • 09/12/2019
  • Comments Off on Masjid Baitul Makmur : Rumah Ibadah Inklusif Ramah Difabel

Arundati Swastika W / 170906354

Tampak Depan Masjid Baitul Makmur
Dokumentasi Pribadi

Rumah ibadah, salah satunya masjid menjadi tempat yang sering dikunjungi dalam rangka berhubungan dengan Tuhan atau meningkatkan kereligiusan seseorang. Namun tidak semua rumah ibadah memfasilitasi jamaahnya yang memiliki kebutuhan lebih. Masjid Baitul Makmur sendiri menjadi rumah ibadah yang memiliki fasilitas untuk membantu teman-teman difabel.

Masjid ini berlokasi di Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta. Akses menuju masjid ini terbilang mudah, meskipun berada di tengah pemukiman warga yang cukup padat. Baitul Makmur adalah masjid yang berdiri sejak tahun 1990-an, dan memang jamaah utamanya adalah warga yang tinggal di sekitar masjid ini.

Berkaitan dengan fasilitas untuk difabel yang disediakan oleh Masjid Baitul Makmur, menurut Dodi Junaedi yang merupakan ketua Takmir Masjid adalah ide dari masyarakat sendiri. “Disini ada banyak (difabel), makanya saya usulkan di musyawarah RT” ungkapnya saat diwawancarai pada Sabtu (7/11/19).

Ia mengatakan, pembangunan fasilitas ini disambut dengan sangat baik oleh masyarakat. Bahkan, pendanaan pembangunan fasilitas sendiri berasal dari jamaah masjid. “Biaya membangun dari jamaah semua, kami urunan.” Katanya. Ia menambahkan, untuk fasilitas dari pemerintah hanya alat-alat lain seperti layar televisi yang diberikan. Fasilitas untuk difabel, sepenuhnya merupakan hasil kerja warga.

Adapun fasilitas yang dibangun, antara lain adalah guiding block untuk tunanetra, dan blok semen kecil untuk berwudhu bagi difabel yang fisik. Keduanya ditempatkan tepat di depan aula masjid untuk mempermudah akses difabel masuk ke dalam masjid.

Guiding Block di Baitul Makmur
Dokumentasi Pribadi

Dodi mengatakan, fasilitas yang disediakan ternyata tidak hanya digunakan oleh yang difabel saja. Fasilitas juga digunakan oleh jamaah lansia masjid Baitul Makmur. “Jarang, tapi juga untuk bantu lansia kadang-kadang” katanya.

Keberadaan fasilitas ini sendiri, baru ada sekitar 2-3 tahun belakangan. Keberadaan fasilitas termasuk baru di masjid Baitul Makmur, dan selama pengolahan ide pembangunan sendiri ada bantuan pengawasan dari pengamat difabel. “Warga kami ada yang anggota organisasi tentang difabel, beliau membantu memberi ide dan mengawasi” kata Dodi.

Blok Semen di Tempat Wudhu
Dokumentasi Pribadi

Namun fasilitas bagi difabel yang tersedia, baru blok semen dan guiding block. Dodi mengatakan, untuk fasilitas bagi tuli seperti asisten bahasa isyarat ataupun kitab suci dengan huruf braille belum tersedia. “Karena sangat jarang, jadi sekarang belum ada” jelas Dodi. Ia mengatakan, meskipun belum tersedia, ia dan majelis takmir masjid Baitul Makmur berharap bisa segera menyediakannya.

Dodi mengungkap, kehadiran fasilitas untuk difabel ini juga menjadi percontohan bagi rumah ibadah lainnya. Ia mengatakan, ini karena saat pertama dibangun fasilitas tersebut masih belum umum. “Banyak yang berkunjung melihat contoh, sampai lintas agama” jelasnya.

Percontohan sebagai rumah ibadah tidak hanya dilakukan secara lintas agama, tetapi juga pemerintah juga datang langsung mengunjungi dan melihat fasilitas ini. “Kemarin lalu sempat datang satu bis dari provinsi, ya melihat fasilitas difabel ini” kata Dodi.

Masjid Baitul makmur dengan lokasi yang tertutupi rumah warga, terlihat jika telah menjadi perhatian luas publik dengan adanya fasilitas difabel. Terutama, dengan inklusivita warganya yang mendukung keberadaan fasilitas dan menjaga harmoni dengan warga yang difabel. Ia mengungkapkan, bahwa harapan kedepannya agar fasilitas ini dapat semakin berkembang, dan dapat membantu warga sekitar Baitul Makmur yang membutuhkan. “Untuk tuli memang masih jarang sekali, tapi harapannya bisa ada kedepannya” tutup Dodi.