Beda Keyakinan Tak Gentarkan Gustin Kunjungi Ganjuran

  • admin
  • 09/12/2019
  • Comments Off on Beda Keyakinan Tak Gentarkan Gustin Kunjungi Ganjuran

Toleransi beragama yang diterapkan Gereja dan Candi Hati Kudus, Ganjuran terwujud dalam banyaknya pengunjung dari berbagai keyakinan. Adalah Gustin, seorang mahasiswa yang tak gentar kunjungi tempat favoritnya walaupun berbeda keyakinan.

Pesona Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran sebagai wisata religius kota Yogyakarta tidak dapat dielakkan lagi. Dibangun dengan balutan arsitektur klasik khas Belanda dan sentuhan khas Jawa membuatnya menjadi wujud indah Akulturasi budaya. Wisata religius yang buka 24 jam ini terdiri dari berbagai bangunan dan objek religius, seperti Gereja, kapel, patung Bunda Maria, Candi, hingga panti asuhan. Semuanya tergabung menjadi satu kawasan yang indah nan tenang, membuat siapapun yang mengunjunginya merasa nyaman.

Tak hanya itu, toleransi beragama yang diterapkan Ganjuran memikat siapapun untuk mengunjunginya. Tak peduli dengan perbedaan agama, suku, dan budaya, Ganjuran terbuka bagi siapapun yang ingin mengunjunginya. Tak pelak, mereka memasang spanduk dekat pintu masuk yang bertuliskan “Masyarakat Kecamatan Bambangliputo Anti Intoleransi dan Menjaga Toleransi Antar Umat Beragama”.

Gapura Depan Gereja dan Candi Hati Kudus, Ganjuran.

Wujud nyata Inklusivitas Ganjuran terbukti dengan adanya pengunjung berbeda agama yang penulis sempat temui, Gustin Hendra Wati namanya. Mahasiswa Pendidikan Matematika yang biasa dipanggil Gustin ini mengatakan bahwa dirinya rutin mengunjungi Ganjuran sejak SMA.

“Aku mulai ke Ganjuran sejak SMA, waktu sudah diizinkan membawa motor sendiri. Sekarang jadi sering kesini karena sudah kuliah dan lebih sering membawa motor, dan teman-temanku banyak yang sering ke Ganjuran,” tutur mahasiswa semester lima tersebut. 

Ketertarikan Gustin terhadap agama Katolik terlihat sejak Sekolah Dasar. Hal tersebut terbukti dari keputusannya memilih lembaga Pendidikan. Pasalnya, Gustin selalu memilih sekolah dan perguruan tinggi dengan Yayasan yang berlandaskan agama Kristen atau Katolik Sedari SD (Sekolah Dasar) hingga ia menduduki bangku kuliah. Ketertarikan tersebut terus bertumbuh hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencoba mengunjungi Ganjuran. Dan ternyata benar, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

“Meskipun saya bukan Katolik, saya suka ke Ganjuran karena tempatnya nyaman. Suasananya juga tenang untuk berdoa, tidak terlalu ramai seperti di Gereja yang terkadang masih berisik, apalagi yang biasanya membawa anak. Selain itu, sehabis berdoa saya merasa ayem”, ujarnya.

Gustin yang beragama Muslim mengaku senang berkunjung ke Ganjuran. Pasalnya, dirinya memang tertarik untuk mempelajari dan memahami agama Katolik. Tak pelak, dirinya selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Candi Hati Kudus, Ganjuran yang telah berdiri sejak 16 April 1924 ini.

Gustin Hendra Wati, sang narasumber.

“Saya kadang kesini kalau saya pingin. Terkadang teman-teman juga mengajak. Kalau saya sedang luang atau tidak sibuk kuliah, pasti kesini. Terkadang kalau habis ke Gereja dan tidak kemalaman, diusahakan kesini”, ujarnya.

Antusiasme Gustin terhadap agama Katolik tak hanya melalui kunjungan ke Ganjuran saja, namun  terlihat pula dengan dirinya yang banyak mengetahui mengenai Ganjuran, seperti bangunan-bangunan yang ada didalamnya, tradisi-tradisi yang kerap diadakan, hingga jadwal Misa Gereja.

Meskipun dirinya belum bisa memeluk agama Katolik yang selama ini menjadi kerinduannya, ia tetap berharap dapat terus mengunjungi dan mengapresiasinya. Gustin berharap, suatu saat takdir akan menuntunnya menuju sesuatu yang selama ini ia yakini. Tak lupa, ia berpesan bagi kita untuk selalu menerapkan toleransi beragama. Biarlah sesuatu yang telah lama mendarahdaging dilestarikan dan dijaga agar selalu utuh dan menciptakan kerukunan antar sesama, karena ketentraman itu mahal harganya. (Lucky Budiman)

Angelo Lucky Budiman / 170906224