Inilah Karya Seni Limbah Kaca, Ivan Bestari Minar Pradipta

Ignatius Adi Bayu Pradhana
140905444
UAS Jurnalisme Online
Narasumber : Ivan Bestari Minar Pradipta

“Usaha tidak langsung menjadi hal yang besar, semua diawali dari niat, kalo niat tidak dipelihara, tidak akan tumbuh,” kata Ivan saat ditemui di Otakatik (27/05/2017).

Ivan Bestari

Ivan (33), begitulah panggilan akrabnya. Ia merupakan alumni mahasiswa Jurusan Desa in Produk UKDW yang saat ini menekuni karya seninya yakni mengolah limbah kaca. Pada 2012, ia mendirikan komunitas Otakatik Creative Workshop, Jalan Ngadimulya, Pakuncen, Wirobrajan, RT 37 RW 8, nomor 265, Yogyakarta.

Dokumentasi Pribadi

Pendirian
Untuk bisa mendirikan otakatik ini, tentunya butuh niat yang harus dibangun. Ia mengatakan “otakatik ini merupakan bengkel terbuka, ada yang menyebutnya open space, siapapun boleh belajar serta menggunakan fasilitas di sini untuk menciptakan kreasi,” ujarnya.

Dokumentasi Pribadi

Belajar bersama

Ketika teman-teman Ivan belajar di otakatik, ia selalu sharing tentang ilmunya yang didapatkan dari Sunaryo, ahli pembuat tabung reaksi dari Condongcatur, Depok Sleman. Ia tertarik kaca karena merupakan topik yang perlu diangkat sebagai bahan eksplorasi. Perlu ditekankan, eksplorasi dilakukan yakni menggali metode pengolaanya, tanpa harus menggunakan fasilitas lengkap seperti yang ada di pabrik.

Ide Awal
Ide awalnya, ia sering membuat tugas bareng bersama teman-temanya di laboratorium kampus. Ia magang di CV Glass Blower terletak di Jalan Condong-catur, Yogyakarta. Berawal dari hal-hal tersebut, lalu ia bersama rekannya Yohanes Sigit mulai mengembangkan sendiri metode pengelolaan limbah kaca.

Yohanes Sigit

Daur Ulang Kaca
Untuk menghasilkan karya seni limbah kaca mengaggumkan, ia menggunakan 100% limbah kaca yang dikreasikan menggunakan metode pengelolaanya. Ivan harus selalu berhati-hati agar material kaca tidak membahayakan dirinya dalam mengelolanya. Sebelum Ivan mendaur ulang limbah kaca, ia membersihkan terlebih dahulu serta memilah-milah barang tersebut sesuai dengan jenis dan ukuranya.

100% Limbah Kaca

Asal Limbah Kaca
Ia menambahi “ limbah-limbah kaca di sini kami mendapatkannya dari rekan-rekan pedagang kaca, figura sisa potongan kecil-kecil, dari pengrajin patri kayak mozaik-mozaik di gereja, sisa-sisa botol juga ada,” tambahnya. Dalam mengelola limbah kaca, Ivan menggunakan semangat Do With Your Self serta mengusung konsep ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Berbagai referensi dari internet, ia amati, lalu mulai mencoba untuk memodifikasinya dengan teknik metode pengelolaan yang tersedia di otakatik. Metode yang digunakan yaitu teknik flame working dan cold working.

Flame Working
Cold Working

Flame Working
Ia mengatakan “teknik flame working berguna untuk melunakkan pecahan kaca menggunakan api berkisar 1000-1200 agar dapat dimodifikasi menjadi wujud tiga dimensi” katanya. Hasil dari teknik flame working seperti anting-anting, liontin, miniatur-miniatur kecil, patung, flora dll. Ia nampak sedang asyik melalui tangan-tanganya yang sedang menyentuh kaca pada semburan api. Api yang berasal dari gas LPG serta oksigen lalu dipasangkan dengan alat penyemprot api. Lalu, besar kecilnya api diatur oleh tangannya agar memudahkan dalam memproduksi kreasinya. Setelah itu, tahap selanjutnya proses pembentukan limbah kaca sesuai dengan keinginan seperti bentuk gulali.

Mengolah Limbah Kaca
Hewan Kecil
Anting-anting
Liontin
Kalung

Cold Working

“kalau untuk cold working itu biasanya dikreasikan menjadi barang fungsional yang baru dan hasilnya seperti toples, gelas, asbak, vas bunga, tempat lilin dll,” tambahnya. Ia menegaskan, “untuk cold working biasanya limbah botol kaca diputar dengan alat pemotong seadanya, lalu diperhalus dan diberi sentuhan artistik” tegasnya. Untuk menghasilkan produk daur ulang kaca, otakatik menggunakan peralatan seadanya. “sebetulnya peralatan untuk memproduksi limbah kaca di Indonesia itu susah untuk mencarinya, jadi kami harus memodifikasinya” katanya.

Hiasan Gelas
Daur Ulang Botol
Tempat lilin
Vas Bunga

Harapan Ivan

Untuk hasilnya, Ivan merancang hasil kreasi tergantung dari pemesanan. Ia mengatakan “paling sering dipesan yaitu aksesoris anting-anting, liontin, patung, gelas dan lumayan laku” katanya. Masyarakat menganggap bahwa limbah kaca tidak dapat diolah, ia mengharapkan bahwa limbah kaca dapat menjadi barang bermanfaat melalui kerajinan ini. Untuk hasil penjualan, tidak mudah untuk memperkenalkan produk daur ulang limbah kaca, karena produk ini tergolong belum terlalu populer di Indonesia. Padahal, produk daur ulang limbah kaca ini tergolong karya seni yang bernilai tinggi.

Karya Ivan

Ia menambahi “mungkin masyarakat yang belum terlalu memahami barang-barang yang bernilai artistik,” katanya. Meskipun begitu, Ivan tidak patah semangat, ia terus menciptakan kreasi daur ulang limbah kacanya. Ia telah mengikuti beberapa pameran seperti Jogja Gallery 2014, Bioartenergy 2012, Internasional Eco Festival di Saint Petersburg. Untuk hasil kreasi dari otak-atik dapat ditemukan di art shop, gallery, souvenir, workshop otakatik Yogyakarta dengan harga 30 ribu hingga jutaan rupiah. Selain itu, pemasaran juga dilakukan dengan media sosial seperti instagram. Saat ini, setiap orang dapat memiliki karya Ivan.

Dokumentasi Pribadi

“aku cinta dengan kaca melalui metode pengelolaanya” itulah kata Ivan mengakhiri perbincangan ini.